BERKAH News24 - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengapresiasi keberhasilan tujuh wakil Jawa Timur yang menorehkan prestasi pada Penghargaan Wana Lestari Tingkat Nasional Tahun 2026. Capaian ini menjadi bukti bahwa upaya menjaga kelestarian hutan di Jawa Timur tidak hanya dilakukan pemerintah, tetapi telah tumbuh menjadi gerakan bersama yang melibatkan masyarakat hingga kelompok pengelola hutan.
Menariknya, dari tujuh wakil Jawa Timur yang meraih
penghargaan, tiga berhasil meraih predikat Terbaik I, tiga lainnya Terbaik II,
dan satu wakil memperoleh predikat Harapan III tingkat nasional.
“Alhamdulillah, tujuh wakil Jawa Timur berhasil menorehkan prestasi
membanggakan di tingkat nasional. Atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan
seluruh masyarakat, saya menyampaikan selamat dan terima kasih atas dedikasi
luar biasa dalam menjaga kelestarian hutan sekaligus memberdayakan masyarakat,”
ujar Gubernur Khofifah di Surabaya, Selasa (1/9/2026).
Khofifah menyampaikan, keberhasilan ini menunjukkan bahwa
pelestarian hutan semakin berkembang dari sekadar upaya menjaga kawasan dan
sumber daya alam menjadi gerakan yang memberikan manfaat langsung bagi
masyarakat. Hutan yang terawat dapat menjadi sumber penghidupan, ruang
konservasi, sekaligus fondasi pembangunan yang berkelanjutan.
“Para penerima penghargaan ini adalah teladan nyata bahwa
pelestarian hutan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas
dan kesejahteraan masyarakat. Hutan yang lestari bukan hanya memberikan manfaat
ekologis, tetapi juga manfaat sosial dan ekonomi yang berkelanjutan,”
ungkapnya.
Tiga wakil Jawa Timur yang meraih predikat Terbaik I
nasional masing-masing adalah Johan Prasetyo, S.Hut. dari Balai Penegakan Hukum
Kehutanan Wilayah Jabalnusra untuk kategori Polisi Kehutanan (Polhut); Hendro
Supeno dari Desa Wringin Putih, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, pada
kategori Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM); serta Kelompok Tani
Hutan (KTH) Sumber Lestari yang diketuai Sungkono dari Desa Samar, Kecamatan
Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung.
Hendro Supeno dinilai berhasil menunjukkan dedikasi dalam
mendampingi masyarakat mengelola ekosistem mangrove di Teluk Pang Pang
Banyuwangi secara lestari. Sementara KTH Sumber Lestari mendapatkan penghargaan
atas keberhasilannya mengembangkan pengelolaan hutan rakyat secara
berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat.
Khofifah mengatakan, prestasi tersebut tidak lahir secara
instan. Di balik penghargaan terdapat proses panjang berupa pendampingan,
konsistensi, kerja bersama, serta kepedulian masyarakat dalam menjaga hutan dan
lingkungan di wilayah masing-masing.
“Prestasi ini tidak lahir dalam waktu singkat. Ada
ketekunan, konsistensi, kerja bersama, dan komitmen panjang dalam merawat
hutan. Mereka membuktikan bahwa dari desa dan komunitas dapat lahir
praktik-praktik terbaik yang menjadi inspirasi bagi Indonesia,” ungkapnya.
Sementara itu, tiga wakil Jatim lainnya berhasil meraih
predikat Terbaik II nasional. Penghargaan tersebut diraih Rudiyanto pada
kategori Kader Konservasi Alam (KKA), Kelompok Pecinta Alam (KPA) Pelita pada
kategori Kelompok Pecinta Alam, serta Lembaga Desa Wilis Sejahtera dari
Kabupaten Madiun pada kategori Pemegang Persetujuan Pengelolaan Hutan Desa
(HD).
Satu penghargaan lainnya diraih KP Lesung Gemilang
Sejahtera yang memperoleh predikat Harapan III nasional pada kategori Pemegang
Persetujuan Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (HKm).
Menurut Khofifah, capaian tujuh wakil Jawa Timur tersebut
menunjukkan bahwa ekosistem pengelolaan hutan lestari di Jatim telah melibatkan
banyak unsur dan bergerak pada berbagai lini, mulai dari penegakan hukum,
penyuluhan, konservasi, pemberdayaan kelompok masyarakat, hingga pengelolaan
hutan berbasis desa dan masyarakat. “Capaian di tujuh kategori ini
menggambarkan lengkapnya ekosistem pengelolaan hutan lestari di Jawa Timur,
mulai dari penyuluhan, pemberdayaan kelompok tani dan pelestari alam, penegakan
hukum kehutanan, hingga pengelolaan hutan desa dan hutan kemasyarakatan,” jelas
Khofifah.
Lima penghargaan untuk kategori KTH, PKSM, Polhut, KKA, dan
KPA diserahkan langsung oleh Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni dalam Temu
Karya Teladan Penerima Penghargaan Wana Lestari Tingkat Nasional Tahun 2026 di
Jakarta.
Sementara penghargaan untuk dua kategori perhutanan
sosial, yakni Hutan Desa dan Hutan Kemasyarakatan, diserahkan oleh Direktur
Jenderal Perhutanan Sosial Catur Endah Prasetiani dalam rangkaian peringatan
HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Jakarta, Kamis (13/8).
Secara nasional, Penghargaan Wana Lestari Tahun 2026
diberikan kepada 63 penerima dari 20 kategori. Penghargaan tersebut merupakan
agenda tahunan Kementerian Kehutanan yang telah diselenggarakan sejak 2007
sebagai bentuk apresiasi kepada individu maupun kelompok yang dinilai memiliki
kontribusi dalam menjaga kelestarian hutan sekaligus meningkatkan manfaat hutan
bagi masyarakat.Proses penilaian dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat
provinsi hingga tingkat nasional berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup
dan Kehutanan Nomor P.15 Tahun 2024 tentang Penghargaan Wana Lestari.
Khofifah berharap para penerima penghargaan dari Jawa
Timur tidak berhenti pada capaian penghargaan, tetapi dapat menjadi pusat
pembelajaran sekaligus penggerak lahirnya inovasi baru dalam pengelolaan hutan
di lingkungan masing-masing. “Penghargaan ini bukanlah garis akhir. Justru
setelah menerima penghargaan, praktik-praktik baik yang telah dilakukan harus
semakin diperluas, direplikasi, dan ditularkan kepada kelompok maupun daerah
lainnya,” pesannya.
Ia menambahkan, Pemprov Jatim akan terus memperkuat
kolaborasi bersama pemerintah pusat, pemerintah kabupaten dan kota, penyuluh
kehutanan, kelompok masyarakat, dunia usaha, akademisi, serta berbagai pemangku
kepentingan lainnya untuk membangun tata kelola hutan yang lestari, produktif,
berkeadilan, dan berkelanjutan.
Khofifah menyampaikan, keberhasilan menjaga hutan pada
akhirnya harus bermuara pada dua tujuan yang berjalan beriringan, yakni
terjaganya fungsi ekologis hutan dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang
hidup di sekitarnya. “Semangat Wana Lestari harus terus tumbuh menjadi gerakan
bersama. Hutan tetap terjaga, masyarakat memperoleh manfaat dan kesejahteraan,
serta generasi mendatang dapat mewarisi lingkungan hidup yang sehat dan
berkelanjutan,” pungkasnya.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam arahannya
menekankan pentingnya menjadikan Wana Lestari sebagai instrumen untuk
memperluas replikasi berbagai praktik terbaik pengelolaan hutan di daerah.
Praktik tersebut mencakup peningkatan pendapatan masyarakat, konservasi
keanekaragaman hayati, hingga upaya penurunan emisi sejalan dengan target
Indonesia’s FOLU Net Sink 2030. (tim)






