Ticker

10/recent/ticker-posts

Ad Code

Klik Disini

KONI Jatim Siapkan Ruang Aman bagi Atlet untuk Jaga Kesehatan Mental

BERKAH News24 - Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur menyiapkan ruang aman bagi atlet sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan mental dan mendukung optimalisasi prestasi. Langkah tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan KONI Jatim terhadap kampanye “Ayah Bunda, Anak Laki-lakimu Butuh Kamu” yang mendorong perhatian lebih terhadap kesehatan mental anak dan remaja, khususnya anak laki-laki.

Dukungan terhadap kampanye tersebut diwujudkan melalui deklarasi yang melibatkan KONI Jatim, Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Surabaya, dan RSD Prof. Moeljono, Menur, Surabaya.

Ketua KONI Jawa Timur, M. Nabil, dalam keterangan tertulis, Rabu (12/8/2026) mengatakan isu kesehatan mental sangat relevan dengan kehidupan atlet, terutama atlet muda yang menghadapi tekanan dari berbagai pihak. Tekanan tersebut dapat berasal dari orang tua, pelatih, keluarga, lingkungan sosial, hingga target prestasi yang ditetapkan kepada atlet.

Menurutnya, kondisi mental atlet perlu mendapat perhatian karena dapat berpengaruh langsung terhadap performa saat bertanding. Jangan sampai sebelum tanding sudah tegang, sudah nervous, sudah muncul masalah. Potensi kemenangannya juga pasti tereduksi cukup besar,” kata Nabil.

Untuk itu, KONI Jatim berencana menjalin kerja sama dengan RSD Prof. Moeljono dalam memberikan dukungan terhadap kesehatan mental atlet. Salah satu fasilitas yang disiapkan berupa ruang santai atau ruang cangkrukan yang dapat dimanfaatkan atlet untuk melakukan relaksasi dan mengurangi tekanan. "Kita akan MOU dengan Rumah Sakit Daerah Prof. Moeljono. Segera,” tegasnya.

Nabil menegaskan, fasilitas tersebut nantinya tidak hanya diperuntukkan bagi atlet laki-laki. Seluruh atlet di bawah naungan KONI Jatim diharapkan dapat memanfaatkan ruang tersebut sebagai tempat untuk beristirahat, berinteraksi, maupun melepaskan tekanan sebelum dan setelah menjalani latihan atau pertandingan.

Sementara itu, Direktur RSD Prof. Moeljono, Menur, Surabaya, Vitria Dewi, mengatakan persoalan kesehatan mental pada anak dan remaja perlu mendapatkan perhatian serius. Berdasarkan data yang dimiliki rumah sakit, persoalan mental lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan, baik pada kelompok anak-anak maupun dewasa. “Masalah mental itu lebih banyak di laki-laki daripada perempuan. Mau anak-anak, mau dewasa, itu lebih banyak laki-laki daripada perempuan,” ujar Vitria.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya menyediakan ruang bagi anak laki-laki untuk menyampaikan perasaan dan persoalan yang mereka hadapi. Selama ini, masih terdapat stigma bahwa anak laki-laki tidak boleh menunjukkan emosi atau dianggap lemah ketika mengungkapkan masalah. “Anak laki-laki kok cengeng, kok banyak omong. Tapi di situlah sebenarnya dia memendam perasaannya yang harusnya ada suara yang kita semua mendengarkan,” katanya.

Vitria menilai perhatian tersebut juga penting diberikan kepada atlet muda. Selain membawa harapan keluarga, atlet juga membawa nama Jawa Timur hingga Indonesia sehingga memiliki beban dan tuntutan prestasi yang tidak ringan.

Tekanan dapat muncul ketika atlet mendapatkan target kemenangan atau medali yang tidak sesuai dengan kemampuan dan kondisi dirinya. Dalam situasi tersebut, atlet terkadang tidak berani menyampaikan tekanan yang dirasakan kepada orang tua maupun orang-orang di sekitarnya. “Bisa saja, mereka ditarget atau menargetkan diri harus menang, ditarget harus medali emas. Padahal, itu justru menjadi beban besar yang ia rasa di luar batas kemampuannya. Tapi dia enggak berani mengungkapkan pada orang tuanya. Itu bisa saja menjadi satu tekanan luar biasa,” jelasnya.

Ketua FPPI Surabaya, Nenny W. Gunarso, menambahkan bahwa kampanye “Ayah Bunda, Anak Laki-lakimu Butuh Kamu” lahir dari diskusi dan pengamatan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi anak laki-laki, termasuk bullying dan kekerasan.

Menurut Nenny, anak laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama untuk mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan ruang aman untuk menyampaikan perasaan. "Anak perempuan dan laki-laki itu sama-sama berhak mendapatkan kasih sayang, sama-sama berhak mendapatkan pelukan hangat. Enggak ada beda di sana,” ujarnya.

Ia menilai kebiasaan menahan emosi karena takut dicap cengeng atau lemah justru dapat berdampak negatif terhadap perkembangan anak. Karena itu, orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka agar anak merasa aman untuk bercerita mengenai persoalan yang dihadapi.

Melalui kolaborasi KONI Jatim, FPPI Surabaya, dan RSD Prof. Moeljono, upaya menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi atlet diharapkan dapat terus diperkuat. Dukungan terhadap kesehatan mental diharapkan berjalan beriringan dengan pembinaan fisik dan teknis sehingga atlet mampu menghadapi tekanan kompetisi sekaligus mengoptimalkan prestasi. (hjr)

close
Pasang Iklan Disini