Ticker

10/recent/ticker-posts

Ad Code

Klik Disini

Kick-off Bulan Keamanan Pangan 2026, BPOM RI Percepat Legalitas Produk UMKM

BERKAH News24 - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menggelar Sosialisasi dan Pendampingan Registrasi Produk dan Sertifikasi Sarana Produksi Pangan Olahan untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta Kick-off Bulan Keamanan Pangan 2026 dalam rangka memperingati World Food Safety Day di Kantor BBPOM Surabaya, Senin (15/6/2026).

Kegiatan ini menjadi upaya BPOM untuk memperkuat keamanan pangan sekaligus mendorong percepatan legalitas dan daya saing produk UMKM di Indonesia. 

Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., MD., Ph.D., mengatakan kegiatan yang dipusatkan di Jawa Timur tersebut merupakan bagian dari gerakan nasional BPOM untuk mendukung pengembangan UMKM, khususnya sektor pangan olahan.

"Kegiatan ini kami laksanakan di seluruh Indonesia, tetapi sekarang kami pusatkan di Jawa Timur, khususnya Surabaya, untuk men-support UMKM. Ada sekitar 4,2 juta industri usaha mikro, kecil, dan menengah yang menjadi tugas pengawasan BPOM," ujarnya.

Taruna menegaskan BPOM terus menghadirkan berbagai kemudahan bagi UMKM, salah satunya melalui kebijakan pembebasan biaya registrasi produk pangan olahan bagi usaha mikro dan kecil. 

"Untuk usaha mikro dan kecil, kami sudah memberikan zero registrasi atau gratis untuk produk pangan olahan. Ini bentuk konkret dukungan BPOM kepada UMKM," katanya.

Selain itu, BPOM juga menyederhanakan proses perizinan melalui pelimpahan kewenangan ke unit pelaksana teknis (UPT) di daerah. Dengan kebijakan tersebut, pelaku usaha tidak perlu lagi datang ke Jakarta untuk mengurus sejumlah persyaratan perizinan. 

"Kalau sebelumnya harus jauh ke Jakarta, sekarang cukup di daerah masing-masing. Penandatanganan CPPOB juga sudah didelegasikan sehingga pelayanan menjadi lebih cepat dan mudah," jelasnya.

Menurut Taruna, BPOM juga aktif memberikan pendampingan teknis kepada UMKM, termasuk membantu proses pengajuan perizinan secara digital bagi pelaku usaha yang masih mengalami kendala dalam penggunaan teknologi. 

"Tim kami turun langsung membantu. Kalau ada yang masih kesulitan mengunggah dokumen secara online, kami dampingi. Tujuannya agar mereka tidak mengeluarkan biaya tambahan dan proses perizinan menjadi lebih mudah," ungkapnya.

Ia menambahkan, BPOM juga berupaya menjembatani UMKM dengan perbankan dan industri besar guna mengatasi persoalan permodalan, pengembangan usaha, hingga distribusi produk. Melalui program kemitraan, industri besar didorong menjadi orang tua asuh bagi UMKM agar dapat meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas pasar. 

"Target akhirnya UMKM bisa naik kelas. Kalau naik satu tingkat saja dari mikro ke kecil, keuntungannya bisa meningkat hingga lima kali lipat. Bahkan kalau berkembang menjadi usaha menengah, peningkatannya bisa lebih besar lagi," tuturnya.

Terkait tantangan yang masih dihadapi, Taruna menyebut sebagian pelaku UMKM masih memiliki persepsi bahwa BPOM mempersulit proses perizinan. Selain itu, rendahnya literasi digital dan pemahaman terkait standar keamanan pangan juga menjadi kendala yang sering ditemukan. 

"Badan POM tidak mempersulit. Justru kami ingin membantu. Persoalan lain adalah masih banyak UMKM yang belum memahami proses digital dan aspek teknis keamanan pangan. Karena itu kami turun langsung mendampingi agar produk yang dihasilkan aman untuk dikonsumsi masyarakat," katanya.

Berdasarkan data BPOM, terdapat sekitar 4,2 juta UMKM yang menjadi ruang lingkup pengawasan lembaga tersebut. Namun hingga saat ini, layanan perizinan dan pendampingan yang telah terjangkau diperkirakan baru sekitar satu juta pelaku usaha melalui berbagai skema perizinan dan registrasi produk.

Dalam kegiatan tersebut, BPOM menyerahkan Izin Penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (IP CPPOB) kepada Evi Zainal Abidin serta Izin Penerapan Program Manajemen Risiko (IP PMR) kepada Amerta Indah Otsuka. Selain itu, diserahkan pula Nomor Izin Edar kepada sejumlah pelaku usaha, yakni Bedhag Kopi, Pak Telang, CV Ayyana Berkah Berlimpah, CV Yasma Natura, Subur Jaya Abadi, dan PT Berlian Nutrisi Indonesia.

Melalui Kick-off Bulan Keamanan Pangan 2026, BPOM berharap kesadaran masyarakat dan pelaku usaha terhadap pentingnya keamanan pangan semakin meningkat, sekaligus memperkuat ekosistem UMKM yang aman, berkualitas, dan berdaya saing di pasar nasional maupun internasional. (byu/hjr)

close
Pasang Iklan Disini