Ticker

10/recent/ticker-posts

Ad Code

Klik Disini

Kadiskop UKM Jatim: Koperasi Harus Bertransformasi agar Tetap Relevan di Era Digital

BERKAH News24 - Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur, Endy Alim Abdi Nusa, menegaskan koperasi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan zaman agar tetap menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.

Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Airlangga Support for Economic Collaboration bertema "Transformasi Koperasi Ritel Menjadi Koperasi Modern di Era Ekonomi Digital" yang diselenggarakan Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga di Plaza Universitas Airlangga, Surabaya, Kamis (18/6/2026).

Menurut Endy, kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), memang memunculkan kekhawatiran sebagian masyarakat terkait masa depan pekerjaan. Namun di sisi lain, perkembangan teknologi juga membuka peluang dan melahirkan berbagai profesi baru yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan.

Ia mencontohkan munculnya berbagai pekerjaan berbasis platform digital yang kini mampu menjadi sumber penghasilan utama. Karena itu, koperasi juga dituntut untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar tetap relevan dan mampu bersaing di tengah perubahan yang berlangsung sangat cepat.

Endy mengatakan pemerintah saat ini tengah mendorong penguatan sektor koperasi, termasuk melalui Program Koperasi Merah Putih yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Program tersebut bertujuan memperkuat peran koperasi sebagai instrumen peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya di tingkat desa dan kelurahan.

Ia menjelaskan selama ini koperasi masih identik dengan usaha simpan pinjam, padahal koperasi memiliki potensi besar untuk berkembang di berbagai sektor ekonomi. Di sejumlah negara maju, koperasi bahkan menjadi kekuatan utama dalam bidang produksi, konsumsi, pertanian hingga perbankan.

"Koperasi tidak hanya simpan pinjam. Di berbagai negara maju, koperasi justru menjadi kekuatan ekonomi utama yang mampu berkembang menjadi usaha besar," ujarnya.

Menurut Endy, salah satu tantangan utama koperasi saat ini adalah membangun kepercayaan dan partisipasi anggota. Keberhasilan koperasi sangat ditentukan oleh keterlibatan anggota dalam memanfaatkan dan mengembangkan usaha yang dimiliki bersama.

Selain itu, koperasi juga menghadapi tantangan adaptasi teknologi dan regulasi. Karena itu pemerintah terus mendorong pembaruan Undang-Undang Perkoperasian agar koperasi tetap dapat menjalankan nilai-nilai dasarnya sekaligus memiliki ruang untuk berinovasi mengikuti perkembangan teknologi.

Endy menambahkan Jawa Timur memiliki potensi besar dalam pengembangan koperasi. Meski kontribusi UMKM terhadap perekonomian daerah mencapai sekitar 60 persen, kontribusi koperasi masih perlu terus ditingkatkan. Padahal Jawa Timur memiliki sejumlah koperasi besar seperti Koperasi Petrokimia, Koperasi Semen Indonesia, Koperasi Pondok Pesantren Sunan Drajat, hingga Koperasi Sidogiri yang telah mengelola aset dalam jumlah besar.

Menurutnya, ke depan koperasi tidak hanya diharapkan menjadi pusat distribusi kebutuhan pokok masyarakat, tetapi juga berperan sebagai agregator hasil produksi petani dan pelaku UMKM sehingga mampu meningkatkan nilai tambah serta kesejahteraan anggota.

Sementara itu, Koordinator Mata Kuliah Etika Bisnis dan Creating Shared Value Universitas Airlangga, Gancar Candra Premananto, mengatakan koperasi saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks akibat kondisi polycrisis atau krisis yang terjadi secara bersamaan dari berbagai sektor.

Ia menjelaskan tantangan tersebut meliputi perkembangan teknologi yang sangat cepat, tekanan ekonomi global, hingga perubahan perilaku konsumen yang semakin beralih ke platform digital. Kondisi tersebut membuat transformasi dan modernisasi koperasi tidak lagi menjadi pilihan, melainkan sebuah kebutuhan.

Menurut Gancar, perkembangan teknologi seperti AI telah mengubah berbagai jenis pekerjaan dan model bisnis. Di sisi lain, konsumen kini semakin terbiasa melakukan transaksi secara digital sehingga koperasi harus mampu mengikuti perubahan tersebut agar tidak ditinggalkan anggotanya.

"Kalau kita tidak ikut beradaptasi, maka kita akan ditinggalkan oleh konsumen. Oleh karena itu modernisasi dan transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan keharusan," katanya.

Gancar juga mendorong penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan koperasi untuk menciptakan berbagai inovasi yang dapat memperkuat gerakan koperasi sebagai salah satu pilar ekonomi kerakyatan.

Pada kesempatan yang sama, Manajer Pengembangan K3PG, Dwi Anggraini Futurhesa, membagikan pengalaman transformasi yang dilakukan K3PG dalam menghadapi tantangan perubahan zaman dan perkembangan teknologi digital.

Menurut Dwi, koperasi selama ini masih sering dicitrakan sebagai badan usaha yang kuno, tradisional, dan lamban. Karena itu K3PG memilih melakukan transformasi secara bertahap melalui modernisasi tata kelola organisasi dan digitalisasi layanan.

Ia menjelaskan K3PG memiliki sejumlah modal penting dalam menjalankan transformasi, di antaranya pengalaman operasional sejak 1984, dukungan ribuan anggota aktif, serta diversifikasi usaha yang telah berkembang melalui berbagai unit bisnis.

Dalam proses transformasi tersebut, K3PG menerapkan empat strategi utama, yaitu modernisasi dan digitalisasi sistem, penguatan kapasitas sumber daya manusia dan tata kelola organisasi, diversifikasi bisnis sesuai kebutuhan pasar, serta penguatan rasa memiliki atau sense of belonging anggota terhadap koperasi.

Dwi mengungkapkan proses transformasi yang dijalankan tidak berlangsung singkat. Upaya tersebut telah dimulai sejak 2012 dan baru menunjukkan hasil signifikan pada periode 2018 hingga 2019 karena adanya berbagai tantangan, termasuk resistensi terhadap perubahan dan kendala dalam pengembangan sistem digital.

Saat ini seluruh layanan utama K3PG, mulai dari transaksi simpanan, pinjaman, hingga pembagian sisa hasil usaha (SHU), telah terintegrasi melalui aplikasi digital. Menurutnya, transformasi tersebut menjadi bukti bahwa koperasi mampu berkembang menjadi organisasi yang modern dan adaptif tanpa meninggalkan tujuan utamanya untuk meningkatkan kesejahteraan anggota. (byu/hjr)

close
Pasang Iklan Disini