BERKAH News24 — Musim kemarau panjang membawa berkah tersendiri bagi para perajin batu bata merah di Desa Glonggong, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun.
Cuaca panas yang terik membuat proses pengeringan menjadi jauh lebih cepat, sehingga kapasitas produksi batu bata merah mampu meroket hingga dua kali lipat dibandingkan saat musim penghujan.
Hal tersebut dirasakan Jiman (75), seorang perajin batu bata merah di Desa Glonggong. Di tengah semakin sedikitnya pelaku usaha sejenis di Kabupaten Madiun, Jiman tetap setia mempertahankan usaha warisan secara turun-temurun dari keluarganya.
“Dibandingkan musim penghujan, produksi batu bata merah naik dua kali lipat pada musim kemarau karena cepatnya pengeringan,” ujar Jiman saat ditemui di lokasi usahanya, Senin (3/8/2026).
Jiman mengungkapkan bahwa pada musim penghujan, ruang gerak perajin sangat terbatas. Selain kondisi tanah yang licin dan menghambat proses pencetakan, faktor cuaca membuat proses pengeringan batu bata mentah memakan waktu yang sangat lama.
Dalam kondisi normal atau musim hujan, ia paling banyak hanya mampu menghasilkan sekitar 6.000 biji batu bata dalam satu kali siklus pembakaran. Namun, situasi berbalik drastis saat kemarau panjang melanda.
“Kalau kemarau seperti ini, kami bisa melakukan dua kali pembakaran. Kalau musim hujan ya paling hanya satu kali saja sekitar 6.000 biji,” tutur kakek paruh baya tersebut.
Secara rinci, Jiman menjelaskan proses produksi batu bata pada musim kemarau relatif lebih lancar.
Pencetakan batu bata hanya membutuhkan waktu sekitar tiga hari hingga benar-benar kering di bawah terik matahari. Setelah terkumpul hingga mencapai kuota sekitar 6.000 buah, batu bata siap disusun dan dibakar selama lima hari lima malam penuh.
Di tengah dinamika ekonomi dan kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok saat ini, Jiman memilih untuk tetap mempertahankan harga jual produknya. Ia memasarkan batu bata merah buatan tangannya dengan harga Rp750.000 per 1.000 buah.
Keunggulan kualitas batu bata merah buatan Jiman membuat pemasarannya tidak hanya menjangkau wilayah Kabupaten Madiun saja, tetapi juga menarik minat pelanggan dari luar kota.
“Harganya masih sama, belum naik. Pembeli saya tidak hanya dari Madiun saja, ada pelanggan yang datang dari Kabupaten Ponorogo,” jelasnya.
Di balik berkah musim kemarau, Jiman tidak menampik bahwa profesi perajin batu bata merah kini semakin ditinggalkan. Di Desa Glonggong sendiri, regenerasi perajin mengalami kelesuan, hingga saat ini hanya tersisa dua perajin yang masih bertahan eksis.
Kondisi ini membuat konsumen yang ingin memesan batu bata
dalam jumlah besar harus mengantre dan bersabar. Terlebih, Jiman mengerjakan
seluruh proses produksinya seorang diri secara tradisional.
“Makanya, kalau pesan banyak ya harus sabar menunggu
karena saya mengerjakan sendiri,” pungkasnya.(as/BN24)






