Ticker

10/recent/ticker-posts

Ad Code

Klik Disini

458 Kabupaten Madiun, Ini Sekilas Sejarah dan Profilnya Dari Purabaya hingga Pusat Pemerintahan di Caruban

BERKAH News24 — Kabupaten Madiun menyimpan rekam jejak sejarah yang panjang dan dinamis. Berdasarkan catatan pemerintahan yang sah, wilayah ini resmi berdiri sejak masa Kesultanan Demak, tepatnya pada hari Kamis Kliwon, 18 Juli 1568 (atau Jumat Legi, 15 Suro 1487 Be dalam kalender Jawa Islam). Yang kemudian setiap tanggal 18 Juli 1568, diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Madiun.

Lahirnya Kabupaten Madiun ditandai dengan pelantikan Pangeran Timoer (putra bungsu Sultan Trenggono) sebagai Bupati pertama di wilayah yang kala itu masih bernama Kadipaten Purabaya. Pelantikan ini sekaligus mengakhiri masa pengawasan Kyai Rekso Gati yang memimpin atas nama Demak sejak tahun 1518.

Kronologi Perpindahan Pusat Pemerintahan

Sepanjang perjalanannya, pusat pemerintahan Madiun telah berpindah berkali-kali karena alasan kosmologis Jawa:

Sogaten (1568): Pusat pemerintahan pertama saat bernama Kadipaten Purabaya.

Wonorejo / Kuncen (1575–1590): Dipindahkan pada masa Pangeran Timur.

Pada tahun 1686, kekuasaan diserahkan kepada putri Pangeran Timur, Raden Ayu Retno Dumilah. Sebagai senopati perang, ia berhasil memukul mundur serangan Mataram pada 1586 dan 1587. 

Namun pada tahun 1590, melalui strategi berpura-pura takluk, Sutawidjaja dari Mataram berhasil menguasai istana Wonorejo setelah duel sengit dekat sendang. Raden Ayu Retno Dumilah kemudian dipersunting.

Perubahan Nama (1590): Sebagai penanda penguasaan Mataram, pada 16 November 1590, nama "Purabaya" resmi diganti menjadi "Madiun".

Pemerintahan Madiun sempat berpindah ke Demangan (Wonosari), Kranggan, Maospati (Magetan), hingga Pangongangan (Kota Madiun).

Setelah bertahan selama kurang lebih 190 tahun di Pangongangan (sejak masa Bupati Ronggo Prawirodiningrat tahun 1820), Pemerintahan Kabupaten Madiun melakukan boyongan massal secara sakral ke Mejayan (Caruban) pada 27 Agustus 2014.

Prosesi ini dipimpin oleh Bupati Muhtarom dengan mengarak pataka kabupaten serta tombak Pusaka Kyai Balabar. Kini, berdasarkan PP Nomor 3 Tahun 2019, ibu kota Kabupaten Madiun resmi berada di Caruban, Kecamatan Mejayan.

Secara administratif, Kabupaten Madiun saat ini terdiri atas 15 kecamatan, 198 desa, dan 8 kelurahan. Warga setempat berinteraksi menggunakan Bahasa Jawa dengan Dialek Madiun yang khas.

Sebagai wilayah yang terletak di jalur utama Surabaya-Yogyakarta, Kabupaten Madiun didukung oleh infrastruktur transportasi yang sangat memadai:

Jalan Raya: Dilintasi Jalan Nasional Rute 17 (Surabaya–Mejayan) dan Rute 32 (Mejayan–Madiun), serta tersambung jaringan Jalan Tol Ngawi–Kertosono melalui Gerbang Tol Madiun dan Gerbang Tol Caruban. Terminal Caruban menjadi pusat layanan Bus AKAP dan AKDP.

Kereta Api Aktif: Dilayani oleh Daerah Operasi (Daop) VII Madiun dengan Stasiun Caruban sebagai stasiun terbesar di kabupaten, didampingi stasiun kecil seperti Babadan dan Saradan.

Jalur Kereta Api Nonaktif: Terdapat rekam jejak jalur mati lintas Madiun–Ponorogo–Slahung yang menyisakan eks-Stasiun Pagotan, Kanigoro, Dolopo, dan Halte Milir.

Selain infrastruktur, Kabupaten Madiun juga kaya akan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan seni tradisi.

Pendidikan Tinggi:

Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Madiun

Universitas Sebelas Maret (UNS) Kampus Madiun

Kesenian & Budaya Tradisional:

Dongkrek: Seni pertunjukan komunal berupa tari dan pawai arak-arakan (minimal 8 pemain).

Pencak Silat: Madiun dikenal luas sebagai salah satu pusat perkembangan pencak silat.

Reog Ponorogo: Kesenian topeng kepala singa berhias bulu merak yang juga menjadi ciri khas di Madiun karena letak geografisnya yang berdekatan dengan Ponorogo.


(diolah dari berbagai sumber)

close
Pasang Iklan Disini