BERKAH News24 – Musim kemarau panjang kerap memicu kekhawatiran akan krisis air bersih di berbagai daerah. Namun, pemandangan berbeda justru terlihat di Sumber Air Candi Bagi, Desa Bagi, Kecamatan Madiun Kabupaten Madiun.
Sumber air purba ini tetap mengalir melimpah dan menjadi tumpuan utama ("jujugan") bagi warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
Hebatnya, sumber air ini beroperasi tanpa henti selama 24 jam penuh. Kejernihan dan kesegaran airnya—terutama pada pagi hari—menjadi daya tarik tersendiri bagi warga yang datang bergantian.
Tidak sekadar memenuhi kebutuhan domestik, melimpahnya air di Desa Bagi juga membuka lapangan pekerjaan bagi belasan warga setempat. Pak Suparman, salah satu pekerja yang bertugas mengisi air di lokasi, menuturkan bahwa pengelolaan operasional sumber air ini melibatkan banyak tenaga kerja yang dibagi dalam sistem sif.
"Yang bekerja mengisi air seperti saya ini totalnya ada 12 orang, kami bergantian setiap hari. Sementara itu, untuk warga yang bertugas keliling mengantarkan air menggunakan motor roda tiga (tossa) ada sekitar 16 orang," ujar Suparman saat ditemui di lokasi, Sabtu (11/7/2026).
Aktivitas pengisian dan pengiriman air bersih ini berlangsung setiap hari menggunakan armada motor roda tiga hingga mobil tangki untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.
Meskipun dikelola dengan melibatkan banyak pekerja, sistem pembayaran air di Sumber Air Candi Bagi tergolong sangat unik dan sosial. Warga atau pengirim tidak dipatok tarif mahal yang kaku, melainkan menggunakan sistem sukarela.
Di lokasi pengisian, disediakan sebuah kotak uang ("plung-plungan"). Warga yang mengambil air cukup memasukkan uang seikhlasnya ke dalam kotak tersebut.
"Pembayarannya lewat kotak itu, seikhlasnya. Ada yang memasukkan Rp200, Rp1.000, hingga Rp2.000, semua tergantung kerelaan masing-masing orang," tambah Suparman.
Saat ditanya mengenai dampak musim kemarau, Suparman menegaskan bahwa debit air di Sumber Candi Bagi sama sekali tidak pernah berkurang atau mengalami kekeringan (sat). Sumber air ini terbukti tangguh dan tetap stabil mengalirkan air jernih di tengah cuaca panas ekstrem.
Kendati demikian, pihak pengelola yang terstruktur di Desa Bagi tetap melakukan perawatan berkala secara swadaya, terutama saat musim kemarau, guna memastikan infrastruktur pengisian air tetap berjalan optimal tanpa kendala teknis.
Dengan pengelolaan yang berbasis gotong royong dan
kepedulian sosial, Sumber Air Candi Bagi tidak hanya menyelamatkan warga dari
ancaman kekeringan, tetapi juga menjadi simbol kemandirian ekonomi desa di
tengah teriknya musim kemarau. (as/BN24)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)








