BERKAH News24 - Di tengah meningkatnya stok pangan nasional, Perum Bulog Wilayah Jawa Timur terus menambah kapasitas pergudangan untuk menampung hasil serapan gabah dan beras selama musim panen.
Pimpinan Wilayah Bulog Jawa Timur, Langgeng Wisnu Adinugroho, mengatakan hingga saat ini pihaknya telah menyewa 190 komplek pergudangan tambahan atau setara 223 unit gudang yang tersebar di berbagai daerah di Jawa Timur.
“Secara Jawa Timur kita sudah menyewa 190 komplek pergudangan. Kalau unitnya sudah 223 unit gudang se-Jawa Timur dan kapasitas totalnya mencapai 650 ribu ton,” ujar Langgeng dalam kesempatan yang sama saat kunjungan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Gudang Sewa Bulog Romokalisari, Surabaya, Rabu (13/5/2026).
Menurutnya, tingkat keterisian gudang sewaan saat ini telah mencapai sekitar 80 persen. Jika serapan gabah dan beras masih tinggi hingga puncak panen berakhir, Bulog siap menambah kapasitas penyimpanan.
“Kalau panen masih banyak, kita akan menyewa lagi,” tegasnya.
Langgeng menjelaskan, total kapasitas gudang Bulog Jatim, baik milik sendiri maupun hasil sewa, kini mencapai sekitar 1,7 juta ton. Dari jumlah itu, stok pangan yang saat ini dikuasai Bulog Jatim telah mencapai sekitar 1,3 juta ton.
“Kapasitas gudang milik sendiri sekitar 1,1 juta ton. Jadi total dengan gudang sewa sekitar 1,7 juta ton. Untuk stok per hari ini di Jawa Timur sekitar 1,3 juta ton,” jelasnya.
Tak hanya beras, Bulog Jatim juga menyiapkan stok jagung sekitar 58 ribu ton. Komoditas tersebut mulai disalurkan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung untuk mendukung kebutuhan peternak ayam dan menjaga stabilitas harga pakan.
“Jagung kita ada sekitar 58 ribu ton dan mulai Sabtu kemarin SPHP jagung sudah digelontorkan untuk peternak-peternak ayam,” katanya.
Dalam kesempatan itu juga digelar Focus Group Discussion (FGD) yang dihadiri Direktur Utama Perum Bulog Letjen TNI (Purn.) Ahmad Rizal Ramdhani, para akademisi dari Universitas Andalas, Universitas Brawijaya, dan Universitas Negeri Surabaya, bersama pengamat pertanian, perwakilan petani, pedagang, mahasiswa, Gapoktan, serta berbagai organisasi masyarakat untuk membahas penguatan ketahanan pangan nasional. (jal/hjr)











