BERKAH News24 - Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, ditetapkan sebagai daerah percontohan nasional implementasi program Benteng Bencana Indonesia, sebuah model kolaboratif yang menempatkan ketahanan masyarakat sebagai fondasi utama penanggulangan bencana.
Program tersebut menandai penguatan strategi mitigasi yang tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga kesiapan sosial, ekonomi, dan edukasi masyarakat di wilayah rawan bencana.
Peluncuran program ditandai dengan pelepasan Unit Mobile Museum di Lobby Kantor Bupati Lumajang. Kegiatan itu dihadiri unsur pemerintah daerah, kepala organisasi perangkat daerah, camat, kepala desa kawasan terdampak Semeru, serta sejumlah lembaga mitra yang bergerak di bidang edukasi kebencanaan.
Bupati Lumajang, Indah Amperawati, mengatakan bahwa penunjukan Lumajang sebagai pilot project nasional menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan masyarakat, khususnya di wilayah yang hidup berdampingan dengan risiko erupsi Gunung Semeru dan bencana hidrometeorologi.
Menurutnya, Lumajang memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi. Dari 13 jenis potensi bencana di Indonesia, sebanyak 12 jenis terdapat di wilayah tersebut.
Kondisi itu menjadikan Lumajang sebagai salah satu daerah dengan tantangan mitigasi bencana paling kompleks di Jawa Timur.
Berdasarkan data tahun 2025, tercatat sebanyak 161 kejadian bencana terjadi di Lumajang. Salah satu yang paling berdampak ialah erupsi Gunung Semeru pada November 2025 yang melanda Kecamatan Pronojiwo, khususnya Desa Supiturang.
Bencana tersebut tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi dan kondisi sosial masyarakat.
Menurut Bupati, penanganan bencana selama ini kerap dipahami sebatas pembangunan kembali fasilitas umum atau rehabilitasi infrastruktur. Padahal, tantangan terbesar justru muncul pada fase pascabencana ketika masyarakat harus memulihkan kehidupan dan pendapatan mereka.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Lumajang mendorong penguatan ekonomi masyarakat terdampak sebagai bagian penting dari proses pemulihan.
Pelatihan keterampilan, pemberdayaan usaha kecil, hingga pengembangan sumber ekonomi baru dipandang penting untuk mengurangi kerentanan warga pascabencana.
Selain penguatan ekonomi, edukasi kebencanaan juga menjadi pilar utama dalam program Benteng Bencana Indonesia.
Kehadiran Mobile Museum diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya pelajar, mengenai karakter bencana, sejarah kejadian, serta langkah mitigasi yang tepat saat kondisi darurat.
Pemerintah menilai literasi kebencanaan menjadi investasi jangka panjang untuk menekan risiko korban jiwa karena masyarakat yang memahami ancaman dan prosedur penyelamatan akan memiliki kesiapsiagaan lebih baik.
Program tersebut juga menegaskan pentingnya kolaborasi multipihak dalam pengurangan risiko bencana, mulai dari pemerintah, yayasan sosial, komunitas, hingga masyarakat desa.
Bagi Lumajang, program ini tidak sekadar proyek percontohan nasional, tetapi bagian dari upaya membangun budaya tangguh di tengah ancaman bencana yang berulang.











