Ticker

10/recent/ticker-posts

Ad Code

Klik Disini

Perkuat Identitas Daerah, HARPI Melati Kabupaten Madiun Dorong Pembakuan Baju Pengantin Gagrak Retno Dumilah

BERKAH News24 - Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Melati Kabupaten Madiun terus berkomitmen melestarikan warisan leluhur melalui penguatan identitas budaya lokal.

Untuk itu HARPI Melati Kabupaten Madiun, secara resmi memperkenalkan kembali busana pengantin khas Madiun, yakni gaya Klasik dan Gagrak Retno Dumilah, di pendopo Muda Graha Kanupaten Madiun, Sabtu (25/4/2026).

Ketua HARPI Melati Kabupaten Madiun, Andar Wati Ning Susanti, mengungkapkan bahwa rancangan baju pengantin tersebut merupakan hasil penggalian mendalam oleh para sesepuh HARPI sejak tahun 1995. 

Busana ini bahkan telah meraih prestasi di tingkat Jawa Timur dan sering dipentaskan di berbagai kesempatan.

"Kami mempersembahkan rancangan ini untuk dapat menjadi identitas budaya Kabupaten Madiun dan berharap dapat segera dibukukan sebagai aset budaya serta baju pengantin resmi daerah," ujarnya. 

Pihaknya juga memohon dukungan dari Pemerintah Kabupaten Madiun untuk mempercepat proses pembakuan (legalitas) rancangan tersebut.

Sementara Bupati Madiun, Hari Wuryanto, menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung pengembangan ekonomi kreatif, khususnya pada subsektor fashion dan tata rias. 

Bupati menyatakan bahwa pemerintah daerah siap hadir untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya ini.

"Pemerintah sangat mendukung, karena ini sejalan dengan upaya pelestarian budaya daerah. Namun, kebersamaan dari seluruh stakeholder sangat diperlukan. Jangan sampai setelah diputuskan dan ditandatangani, justru tidak kita gunakan sendiri," tegas Hari Wuryanto

Bupati Hari Wuryanto mengajak para perias yang tergabung dalam HARPI Melati untuk menjadi garda terdepan dalam menggunakan busana khas tersebut. 

Bupati berpesan agar para perias tidak hanya mempromosikan tren luar negeri, tetapi bangga menggunakan identitas asli Madiun seperti busana pengantin Retno Dumilah.

"Siapa lagi yang akan melestarikan kalau bukan kita. Kalau periasnya sendiri saat punya hajat malah memakai model Eropa atau India, tentu kita akan malu. Kita harus berkolaborasi agar budaya ini tetap hidup, santun, dan dapat diterima masyarakat luas," tambahnya.

Diharapankan generasi penerus perias pengantin di Madiun, terus konsisten menjaga pakem budaya di tengah arus modernisasi.

Sementara itu dalam acara ini, dihadiri puluhan ahli rias pengantin dari berbagai daerah di Jawa Timur.(as/BN24)



close
Pasang Iklan Disini