Ticker

10/recent/ticker-posts

Ad Code

Klik Disini

Jatim Perkuat Ketahanan Ekonomi di Tengah Tekanan Global

BERKAH News24 - Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara sektor industri dan pertanian guna memperkuat ketahanan ekonomi daerah di tengah dinamika global yang kian kompleks.

Hal tersebut disampaikan Khofifah saat menjadi keynote speaker dalam kegiatan Jatim Talk Road to East Java Economic Forum (EJAVEC) 2026 yang mengangkat tema “Sinergi Penguatan Daya Saing Jawa Timur melalui Hilirisasi Komoditas Unggulan dan Iklim Investasi Berkelanjutan", Rabu (1/4/2026).

Menurut Khofifah, tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah bagaimana memastikan produksi tetap terjaga, meskipun berbagai penyesuaian kebijakan harus dilakukan, terutama terkait tata ruang dan perlindungan lahan pertanian.

“Yang menjadi perhatian kami adalah bagaimana produksi tidak mengalami penurunan, sementara kita juga harus melakukan penyesuaian kebijakan. Ini bukan hal sederhana, karena berdampak langsung pada sektor industri dan investasi,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, dinamika di lapangan menunjukkan adanya kendala serius, khususnya terkait status Lahan Sawah Dilindungi (LSD) yang kerap berubah. Kondisi tersebut membuat sejumlah perusahaan yang telah memiliki rencana ekspansi terhambat, meskipun telah menyiapkan lahan dan investasi.

“Banyak pelaku usaha mengeluhkan, saat membeli lahan statusnya belum LSD, tetapi ketika akan dibangun justru berubah menjadi LSD. Ini tentu menghambat ekspansi dan menciptakan ketidakpastian investasi,” tegasnya.

Khofifah menambahkan, persoalan tersebut tidak hanya terjadi dalam satu wilayah, tetapi juga lintas kabupaten/kota, sehingga memerlukan penyelesaian komprehensif melalui koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah.

Di sisi lain, Pemprov Jatim terus mendorong penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang lebih presisi berbasis pemetaan digital hingga tingkat kecamatan. Langkah ini dinilai penting untuk memberikan kepastian ruang bagi investasi tanpa mengorbankan sektor pertanian.

“Kita ingin industrialisasi tetap berjalan produktif, tetapi sektor pertanian juga harus tetap kuat. Keduanya harus berjalan seimbang,” katanya.

Selain itu, Khofifah menekankan bahwa penurunan kemiskinan harus berjalan seiring dengan penurunan pengangguran. Untuk itu, fleksibilitas kebijakan menjadi kunci dalam merespons dinamika ekonomi secara cepat dan tepat.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti pentingnya penguatan konektivitas ekonomi Jawa Timur sebagai hub distribusi, khususnya bagi wilayah Indonesia Timur. Saat ini, sebagian besar jalur Tol Laut memiliki keterkaitan dengan Jawa Timur, yang membuka peluang besar bagi distribusi barang ke pasar Indonesia Barat.

“Banyak kapal kembali dalam kondisi kosong. Ini peluang besar bagi kita untuk mengoptimalkan distribusi barang dari Indonesia Timur ke pasar domestik yang sangat besar,” jelasnya.

Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 280 juta jiwa, Khofifah menilai potensi pasar domestik harus dimanfaatkan secara maksimal, tidak hanya bergantung pada ekspor.

Dalam menjaga daya saing, Pemprov Jatim juga mulai mendorong efisiensi energi, baik listrik maupun BBM, melalui penyesuaian konsumsi yang lebih rasional. Langkah ini diharapkan dapat menekan biaya produksi sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi.

“Ini bukan pembatasan, tetapi penyesuaian agar lebih efisien dan berkelanjutan,” imbuhnya.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Khofifah menyebut kinerja ekspor Jawa Timur pada 2025 menunjukkan tren positif dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menjadi indikator bahwa masih terdapat peluang yang bisa dioptimalkan di tengah tekanan global.

Namun demikian, ia mengakui bahwa dinamika investasi tidak hanya dipengaruhi kesiapan daerah, tetapi juga keputusan strategis di tingkat nasional. Tidak jarang, investasi yang telah direncanakan di Jawa Timur akhirnya berpindah ke daerah lain.

“Kita sudah siapkan lahan, perizinan, bahkan komunikasi intensif dengan investor. Tetapi keputusan akhir tetap dipengaruhi banyak faktor, termasuk kebijakan lintas sektor,” ungkapnya.

Untuk itu, Khofifah menekankan pentingnya sinergi yang lebih kuat antara pemerintah daerah, pusat, akademisi, dan pelaku usaha guna menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif.

Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Cabang Surabaya Koordinator Jawa Timur, Soni Harsono, menambahkan bahwa antusiasme terhadap forum EJAVEC terus meningkat setiap tahunnya.

“Peminat EJAVEC selalu meningkat. Banyak akademisi dan praktisi yang mengirimkan paper atau karya ilmiah sebagai bentuk kontribusi pemikiran terhadap pembangunan ekonomi Jawa Timur,” ujarnya.

Ia menilai, tingginya partisipasi tersebut menunjukkan bahwa forum EJAVEC telah menjadi wadah strategis dalam menghimpun ide dan solusi untuk memperkuat daya saing daerah.

Melalui forum ini, diharapkan berbagai rekomendasi yang dihasilkan dapat menjadi rujukan dalam merumuskan kebijakan yang adaptif, sehingga Jawa Timur mampu menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di tengah ketidakpastian global. (jal/s)

close
Pasang Iklan Disini