BERKAH News24 - Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, menjemput dua calon siswa Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 2 langsung ke rumah masing-masing, Sabtu (12/9/2026). Kedua calon siswa tersebut, Afrilia Ayu Agustin dan Khaurur Rozaq, sebelumnya terkendala melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA sederajat.
Wali Kota Blitar yang akrab disapa Mas Ibin mengatakan, dirinya sengaja menjemput kedua calon siswa tersebut secara langsung karena anak-anak yang bersekolah di Sekolah Rakyat sudah dianggap seperti anak sendiri. Menurutnya, hal itu juga menjadi bentuk perhatian seorang ayah kepada Afril yang merupakan anak yatim.
Dalam kesempatan itu, Mas Ibin menjelaskan bahwa pembelajaran di Sekolah Rakyat menggunakan sistem asrama. Kondisi tersebut memungkinkan peserta didik merasa rindu kepada orang tua selama menjalani pendidikan. Namun, menurutnya, hal tersebut merupakan bagian dari proses perjuangan untuk meraih keberhasilan.
Menurut Mas Ibin, sistem asrama di Sekolah Rakyat dapat menempa kedisiplinan dan mental peserta didik. Dengan demikian, setelah lulus, peserta didik diharapkan menjadi pribadi yang lebih kuat, mandiri, dan memiliki daya saing.
“Tadi sudah saya sampaikan ke mereka berdua bahwa Sekolah Rakyat ini sekolah asrama, jadi mereka pasti kangen bapak ibunya. Saya kira ini sebuah proses karena keberhasilan itu memang harus dimulai dengan hal sangat sedih, sangat susah dan penuh perjuangan yaitu berpisah dengan orang tua,” kata Mas Ibin.
Sementara itu, Afril mengatakan keputusan bersekolah di Sekolah Rakyat merupakan keinginannya sendiri untuk melanjutkan pendidikan sekaligus meraih cita-cita menjadi dokter. Berasal dari keluarga kurang mampu, Afril mengaku bersyukur mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan melalui Sekolah Rakyat hingga lulus.
“Saya bersekolah di Sekolah Rakyat keinginan sendiri, karena ingin melanjutkan sekolah dan meraih cita-cita saya menjadi dokter,” jelas Afril.
Kepala Dinas Sosial Kota Blitar Eka Atikah menambahkan, Afril dan Rozaq merupakan anak yang sempat putus sekolah pada jenjang SMA sederajat. Afril sebelumnya bersekolah di SMK 2 Kota Blitar, sedangkan Rozaq tidak dapat melanjutkan pendidikan setelah lulus SMP karena orang tuanya tidak mampu memenuhi biaya sekolah.
“Baik Afril maupun orang tuanya sebenarnya senang di SR karena dikhawatirkan kalau tidak sekolah itu jadi pergaulan bebas, itu kesadaran anaknya sendiri sebetulnya,” pungkas Eka. (byu/s)






