BERKAH News24 – Menjelang dimulainya Tahun Ajaran Baru 2026/2027, aktivitas penjualan seragam sekolah di Pasar Besar Madiun belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Kondisi ini terbilang tidak biasa dan berbeda jauh dari tahun-tahun sebelumnya, di mana kios-kios seragam biasanya sudah mulai diserbu pembeli sejak awal libur sekolah.
Berdasarkan pantauan di lokasi, deretan kios penjual seragam sekolah di Pasar Besar Madiun masih tampak lengang.
Hanya sesekali terlihat orang tua yang datang untuk melihat-lihat maupun membeli kebutuhan sekolah anak mereka. Sebagian besar pedagang justru lebih banyak menghabiskan waktu menunggu calon pembeli ketimbang melayani transaksi.
Padahal, awal Juli sebetulnya menjadi momen emas yang paling dinantikan para pedagang karena bertepatan dengan persiapan masuk sekolah. Berbagai stok jenis seragam telah disiapkan secara lengkap demi memenuhi kebutuhan masyarakat, mulai dari seragam sd (putih-merah), seragam smp (putih-biru), seragam sma (putih-abu-abu), dan seragam pramuka.
Salah seorang pedagang seragam, Wiwik, mengungkapkan bahwa hingga saat ini jumlah pembeli yang datang masih jauh di bawah harapan. Dalam sehari, ia mengaku hanya melayani beberapa orang pembeli saja.
Alhasil, omzet penjualannya merosot tajam jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun-tahun lalu.
Menurut Wiwik, ada beberapa faktor utama yang melatarbelakangi sepinya pasar musim ini.
"Kondisi ini dipengaruhi beberapa hal. Di antaranya masyarakat atau orang tua murid yang masih menunggu informasi pasti dari pihak sekolah terkait detail kebutuhan seragam anak mereka. Selain itu, ada perubahan pola belanja masyarakat yang kini banyak beralih ke toko daring (online)," ujar Wiwik.
Meski tren digital terus menggerus pasar tradisional, sebagian masyarakat terpantau masih setia memilih berbelanja langsung. Salah satunya adalah Sri Rahayu, seorang wali murid yang sengaja datang ke Pasar Besar Madiun.
Menurut Sri, belanja seragam secara konvensional memiliki kepuasan tersendiri yang tidak bisa didapatkan saat membeli lewat ponsel.
"Saya tetap memilih membeli seragam di pasar karena bisa melihat langsung bagaimana kualitas bahannya, mencoba ukuran yang pas untuk anak, serta bisa membandingkan harga dari beberapa pedagang sebelum memutuskan untuk membeli," kata Sri Rahayu.
Kini, para pedagang di Pasar Besar Madiun hanya bisa
menggantungkan harapan pada pekan terakhir sebelum hari pertama masuk sekolah
dimulai.
Mereka berharap momentum last-minute tersebut dapat
membawa lonjakan pembeli demi mendongkrak pendapatan yang sempat lesu,
sekaligus menghidupkan kembali denyut aktivitas perdagangan di salah satu pasar
utama Kota Madiun ini.(as/BN24)










