BERKAH News24 - Pondok Pesantren (Ponpes) Ngalah, Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan mempraktikkan toleransi dengan menerima siapa saja yang berkunjung, baik muslim maupun non-muslim, untuk dialog atau sekadar berbagi wawasan.
Sejak didirikan oleh KH. Moh. Sholeh Bahruddin Kalam pada tahun 1985 dan kini diteruskan oleh KH. M. Sholeh Bahruddin, menjadikan pondok pesantren ngalah, terasa begitu Indonesia.
Kiyai Sholeh mengatakan, selama di pondok, seluruh santri diajarkan untuk menghormati perbedaan sebagai bagian dari kekayaan yang harus dijaga.
“Karena kita ini sama-sama manusianya," ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Perihal kegiatan, Kyai Sholeh menjelaskan, ada banyak hal yang rutin dilaksanakan dalam rangka menjaga keberagaman di pondok pesantren.
Mulai dari diskusi lintas budaya, seminar perdamaian, dan perayaan hari besar yang melibatkan beragam tradisi santri.
Semua kegiatan tersebut menjadi wadah untuk memperkuat semangat toleransi di antara santri.
"Kita jaga semua itu supaya guyub rukun," tambahnya.
Tradisi hidup berdampingan di Pondok Pesantren Ngalah menjadikannya simbol bagaimana harmoni dapat terwujud di tengah keberagaman.
Menurutnya, ponpes yang didirikannya tidak hanya mencetak generasi yang paham agama, tetapi juga mampu menjadi duta perdamaian di masyarakat.
"Kita hidupkan nilai-nilai multikulturalisme di tengah dunia yang semakin majemuk. Jangan sampai terpecah belah apapun yang terjadi," ucapnya.
Dengan berjalannya waktu, ponpes ngalah tak hanya menerima para santri yang mondok. Namun juga memperhatikan pendidikan formal, mulai dari kelompok bermain anak-anak sampai perguruan tinggi.
Dengan nama besar dan keistimewaan yang dimiliki, Kiyai Sholeh menginginkan pada siapa saja yang akan, sedang ataupun pernah mondok dan mengenyam pendidikan di Ponpes Ngalah, untuk menjadi pribadi yang berakhlaqul karimah, bermanfaat bagi sesama. (yan/hjr)













