BERKAH News24 - Upaya menekan angka pengangguran pemuda di Jawa Timur terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Yayasan Plan International Indonesia (YPII) bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Timur serta puluhan perusahaan untuk menyelaraskan pelatihan tenaga kerja dengan kebutuhan industri.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui program You RISE dan Future Makers yang menitikberatkan pada integrasi pelatihan, pemagangan, hingga penempatan kerja. Program ini juga bertujuan memetakan berbagai inisiatif pemerintah, seperti Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) serta Balai Latihan Kerja (BLK), agar lebih relevan dengan kebutuhan dunia usaha.
Manajer Proyek You RISE YPII, Maya, dalam keterangan tertulis, Jumat (6/2/2026), menegaskan pentingnya sinkronisasi program untuk mencegah duplikasi kegiatan pelatihan. Selain peningkatan keterampilan teknis, YPII juga menekankan aspek keamanan serta perlindungan tenaga kerja muda.
“Kami mengajak sektor swasta memahami prinsip inklusivitas dan safeguarding agar mampu menyediakan lingkungan kerja yang aman dan layak bagi kaum muda,” ujarnya.
Untuk mempercepat penyerapan tenaga kerja, YPII melibatkan sekitar 30 perusahaan dari sektor teknologi informasi, perhotelan, dan ritel. Project Manager Future Makers YPII, Rahardjo, menyebutkan bahwa sejak September 2025 program ini telah melatih sekitar 900 peserta, dengan hampir 200 orang berhasil terserap ke dunia kerja.
Program ini difokuskan pada tiga bidang dengan kebutuhan tenaga kerja tinggi, yakni pengembangan web di sektor teknologi informasi, pengelolaan media sosial untuk ritel, serta layanan pelanggan di sektor perhotelan. Hingga 2027, Future Makers menargetkan mampu menyerap 1.500 tenaga kerja dari lebih dari 2.000 peserta pelatihan literasi digital.
Kepala Bidang Penempatan dan Perluasan Kesempatan Kerja Disnakertrans Jatim, Purwanti Utami, menilai keterlibatan sektor swasta menjadi kunci keberhasilan program, khususnya dalam mendukung perempuan dan kelompok rentan.
“Peserta tidak dilepas begitu saja setelah bekerja. Mereka tetap mendapatkan pendampingan soft skill dan adaptasi kerja. Ini menjadi nilai tambah kolaborasi dengan Plan Indonesia,” jelasnya.
Program ini juga membuka peluang lebih luas bagi penyandang disabilitas. Direktur Gadisku (Galeri Disabilitas Kinasih dan UPT Dinsos Jatim), Edy Cahyono, mengungkapkan sedikitnya 30 perusahaan telah berkomitmen menyediakan kesempatan kerja minimal satu persen dari total karyawan bagi pekerja disabilitas.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat tantangan karena sebagian perusahaan baru menawarkan skema magang atau kontrak jangka pendek. Namun, jejaring kemitraan diyakini akan terus berkembang.
“Tahun ini kami menargetkan penyaluran 100 tenaga kerja disabilitas usia 19–35 tahun. Jumlah pendaftar telah melampaui target dan seleksi akan disesuaikan dengan kebutuhan industri,” ujarnya.
Sinergi antara pemerintah, lembaga sosial, dan dunia usaha tersebut diharapkan menjadi motor penggerak terciptanya lapangan kerja berkualitas bagi generasi muda di Jawa Timur, sekaligus mendukung target pemagangan nasional Kementerian Ketenagakerjaan.












