BERKAH News24 - Provinsi Jawa Timur membawa jejak panjang dakwah dan peradaban Islam melalui mobil hias dalam Pawai Ta’aruf MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 di Kota Semarang, Sabtu (12/9/2026). Mengusung tema “Jejak Dakwah dan Peradaban Islam Tegalsari”, mobil hias tersebut menampilkan Masjid Kyai Ageng Muhammad Besari, Tegalsari, Ponorogo, sebagai simbol perjalanan pendidikan Islam yang berpadu dengan kekayaan budaya Jawa.
Ketua Pelaksana Harian LPTQ Jawa Timur KH Abdul Hamid Abdullah mengatakan, kehadiran mobil hias tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari kemeriahan Pawai Ta’aruf MTQ Nasional, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga dan meneruskan warisan dakwah serta pendidikan Islam yang telah berkembang sejak masa lalu.
Menurutnya, Tegalsari memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan Islam dan pendidikan di Jawa. Pesantren yang diasuh Kyai Ageng Muhammad Besari menjadi ruang pendidikan dan dakwah yang membentuk tradisi keilmuan sekaligus karakter para santri.
“Mobil hias ini ingin menggambarkan bahwa Tegalsari memiliki jejak dakwah, pendidikan dan peradaban yang panjang. Nilai-nilai tersebut tetap relevan untuk kita teruskan kepada generasi sekarang, khususnya melalui kecintaan terhadap Al-Qur’an,” kata KH Abdul Hamid.
Masjid Kyai Ageng Muhammad Besari menjadi titik utama dalam desain mobil hias Jawa Timur. Gapura masjid dengan karakter arsitektur tradisional Jawa, bata merah, ukiran, serta bentuk atap khas menjadi representasi pertemuan antara nilai-nilai Islam dan budaya lokal.
Di balik tampilan tersebut tersimpan pesan bahwa masjid tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, pembentukan karakter dan pengembangan ilmu pengetahuan. Semangat itulah yang kemudian divisualisasikan dalam mobil hias untuk menyambut pelaksanaan MTQ Nasional XXXI di Jawa Tengah.
Jejak Tegalsari juga diperkuat dengan kisah para tokoh yang pernah menimba ilmu di lingkungan pesantren tersebut. Salah satunya Ki Ageng Ronggowarsito, pujangga besar Jawa yang dikenal melalui karya sastra dan pemikiran kebudayaannya.
Kehadiran sosok tersebut menjadi gambaran bahwa pesantren pada masa itu bukan hanya ruang untuk mempelajari ilmu agama. Pesantren juga menjadi tempat bertemunya berbagai disiplin ilmu, mulai dari sastra, budaya, pengetahuan hingga kearifan lokal.
Pesan tersebut kemudian diterjemahkan dalam berbagai ornamen mobil hias. Unsur Al-Qur’an dan MTQ menggambarkan kesinambungan tradisi membaca, mempelajari, memahami dan mengamalkan Al-Qur’an yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sementara itu, unsur Reog Ponorogo ditampilkan sebagai identitas budaya Jawa Timur. Kehadiran Reog berdampingan dengan simbol masjid dan Al-Qur’an memperkuat pesan bahwa nilai agama dan kebudayaan dapat berjalan harmonis serta saling memperkaya tanpa kehilangan jati diri.
Pawai Ta’aruf MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 sendiri mengambil rute yang melintasi sejumlah ruas jalan utama Kota Semarang. Rangkaian pawai dimulai dari Balai Kota Semarang, kemudian bergerak menuju Jalan Pandanaran, melewati Simpang KFC, selanjutnya masuk ke Jalan Mugas.
Dari Jalan Mugas, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Jalan Menteri Supeno, kemudian melewati Jalan Pahlawan, hingga akhirnya rangkaian pawai ditutup dengan sistem contra flow menuju kawasan Gubernuran.
Melalui rute tersebut, mobil hias Jawa Timur menjadi salah satu bagian dari parade yang membawa identitas daerah sekaligus pesan keislaman dan kebudayaan. Kehadirannya di sepanjang jalur pawai menjadi momentum untuk memperkenalkan warisan Tegalsari kepada masyarakat yang menyaksikan langsung perhelatan MTQ Nasional di Kota Semarang.
Pawai Ta’aruf menjadi momentum bagi setiap provinsi untuk memperkenalkan identitas dan kekayaan daerah masing-masing. Jawa Timur memilih Tegalsari sebagai representasi karena warisan yang ditinggalkannya memiliki keterkaitan kuat dengan semangat MTQ, yakni membangun generasi yang dekat dengan Al-Qur’an sekaligus memiliki karakter dan wawasan yang luas.
Melalui konsep tersebut, Jawa Timur tidak hanya menampilkan sebuah kendaraan hias dalam pawai, tetapi juga menghadirkan narasi sejarah dan kebudayaan. Setiap ornamen dirancang untuk menyampaikan perjalanan Tegalsari sebagai salah satu pusat dakwah dan pendidikan Islam yang memiliki jejak penting dalam perkembangan kehidupan keagamaan dan kebudayaan di Jawa.
Pesan utama yang ingin disampaikan melalui mobil hias tersebut adalah bahwa warisan sejarah tidak berhenti sebagai kenangan masa lalu. Nilai perjuangan dakwah, pendidikan dan keilmuan yang diwariskan Kyai Ageng Muhammad Besari dapat menjadi inspirasi bagi generasi masa kini untuk terus membangun masyarakat yang beriman, berilmu dan berbudaya.
“Semangat Tegalsari adalah semangat pendidikan, dakwah dan pembentukan generasi. Nilai itu harus terus hidup dan menjadi bagian dari ikhtiar kita membangun generasi Qur’ani,” ujar KH Abdul Hamid.
Mobil hias Jawa Timur dalam Pawai Ta’aruf MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 pun menjadi simbol perjalanan tersebut. Dari masjid, pesantren dan tradisi keilmuan Tegalsari, Jawa Timur membawa pesan tentang kesinambungan dakwah: menjaga warisan masa lalu, menghidupkannya pada masa kini, dan mewariskannya kepada generasi mendatang. (jal/s)






