Ticker

10/recent/ticker-posts

Ad Code

Klik Disini

Terjepit Harga Pakan Naik dan Harga Telur Anjlok, Peternak di Madiun Terancam Gulung Tikar

BERKAH News24 — Para peternak ayam petelur di Kabupaten Madiun, kini tengah menghadapi situasi sulit. 

Dalam dua pekan terakhir, harga telur ayam di tingkat peternak anjlok hingga menyentuh angka Rp 20.000 per kilogram. Kondisi ini kian menjepit peternak lantaran di saat yang sama, harga pakan ayam justru terus merangkak naik.

Salah seorang peternak ayam petelur di Desa Candimulyo, Kecamatan Dolopo, Suciani, mengungkapkan bahwa harga jual telur saat ini berada jauh di bawah biaya produksi atau Harga Pokok Penjualan (HPP). 

Menurutnya, agar peternak bisa menutup biaya operasional dan meraup sedikit keuntungan, harga telur idealnya berada di kisaran Rp 24.000 per kilogram.

"Kami terpaksa menjual hasil panen sebelum kualitas telur menurun," keluh Suciani.

Padahal, Kementerian Pertanian telah menetapkan HPP telur ayam sebesar Rp 26.500 per kilogram. 

Namun pada realitasnya di lapangan, harga di tingkat peternak sangat didikte oleh kondisi pasar dan penawaran dari para pengepul.

Suciani menceritakan, harga telur bahkan sempat merosot tajam hingga Rp 17.700 per kilogram. Karena dinilai terlalu merugi, ia sempat memilih untuk menahan penjualan.

"Saya tidak kasih telurnya. Biar saya simpan dulu. Beberapa hari kemudian harga mulai membaik menjadi sekitar Rp 20.000," ujarnya. 

Meski ada kenaikan tipis, angka Rp 20.000 tersebut diakuinya tetap belum mampu menutup biaya usaha.

Penurunan harga ini disinyalir terjadi setelah momentum Hari Raya Idul Fitri, di mana harga telur sempat menyentuh Rp 24.000 per kilogram. Pasca-lebaran, harga terus merosot dan tidak lagi mengacu pada ketetapan pemerintah.

Faktor utama penyebab anjloknya harga adalah lemahnya permintaan pasar yang tidak sebanding dengan pasokan telur yang melimpah. 

Akibatnya, peternak tidak memiliki posisi tawar yang kuat dan terpaksa melepas hasil produksi dengan harga murah demi mengejar kesegaran kualitas telur.

Penderitaan peternak rakyat kian lengkap akibat melambungnya biaya produksi, khususnya pakan ayam jenis konsentrat. Dalam dua bulan terakhir, harga konsentrat melonjak dari Rp 390.000 menjadi Rp 437.500 per sak.

"Saat ini harga naik menjadi Rp 437.500 per sak. Kondisi ini tentunya sangat memberatkan peternak," kata Suciani.

Saat ini, Suciani mengelola sekitar 1.600 ekor ayam petelur dengan kapasitas produksi mencapai 75 hingga 80 kilogram telur per hari. 

Mewakili para peternak rakyat lainnya, ia sangat berharap pemerintah segera turun tangan mengambil langkah konkret untuk menekan harga pakan sekaligus menstabilkan harga telur di pasar.(as/BN24)

close
Pasang Iklan Disini