BERKAH News24 – Pemerintah Kabupaten Madiun resmi meluncurkan program Kampung Inggris di Desa Sumberbening, Kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun, Kamis (25/6/2026).
Kehadiran pusat rintisan bahasa asing ini diharapkan mampu mendongkrak kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) lokal tanpa harus membuat masyarakat merogoh kocek dalam-dalam.
Bupati Madiun Hari Wuryanto, menyampaikan bahwa pembentukan Kampung Inggris ini merupakan langkah strategis yang efisien untuk meningkatkan kemampuan anak-anak daerah.
Menurutnya, warga Madiun kini tidak perlu lagi jauh-jauh pergi ke luar kota untuk menguasai bahasa internasional.
"Kita berharap nanti bisa kembangkan, sehingga pada saat kita mau meningkatkan kualitas anak-anak kita itu tidak perlu jauh-jauh ke kota lain, seperti ke Pare misalkan. Cukup di sini dengan biaya lebih murah, tapi hasilnya maksimal," ujar Hari Wuryanto.
Tidak hanya fokus pada pendidikan, Pemkab Madiun juga berkomitmen mendukung ekosistem Kampung Inggris ini melalui intervensi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.
Dinas Kesehatan, misalnya, akan dilibatkan untuk memastikan kebersihan, kesehatan lingkungan, hingga higienitas menu makanan para peserta yang menginap.
Bupati optimis kehadiran program ini akan ikut mengungkit roda perekonomian warga di sekitar Desa Sumberbening.
Sementara itu, Ahmad Said Triyanto selaku owner menjelaskan bahwa ide pembangunan Kampung Inggris ini didasari oleh pengalamannya mengajar selama 12 tahun di BEC Pare, Kediri, sejak tahun 1996.
Setelah berjuang selama dua tahun bersama rekan-rekan dan mendapat dukungan dari Dispora serta pihak sekolah, program ini akhirnya resmi di-launching langsung oleh Bupati Madiun.
"Alhamdulillah, kami berjuang selama dua tahun dan tidak menyangka beliau (Bupati) berkenan hadir langsung untuk meresmikan sekaligus me-*launching*. Kami sangat bersyukur," ungkap Ahmad Said.
Saat ini, Kampung Inggris Sumberbening mengasuh sekitar 100 siswa reguler dari tingkat SD kelas 1 hingga SMA, termasuk kelas umum bagi lulusan sekolah yang bersiap masuk dunia kerja atau kedinasan.
Pengajaran diampu oleh empat tutor berpengalaman dari berbagai daerah seperti Banten dan Lombok, bahkan sempat mendatangkan tutor dari Belanda.
Mengenai metode belajar, Ahmad Said menerapkan pendekatan Personality Smart Learning (PSL) dan neuro-linguistic programming (NLP) yang dipadukan dengan nilai-nilai kitab Ta'limul Muta'allim karena latar belakangnya yang berasal dari pondok pesantren.
Pembelajaran disesuaikan dengan kecerdasan masing-masing anak tanpa adanya paksaan.
Untuk melatih mental, pihak pengelola menerapkan metode khusus berupa drilling. Anak-anak dibiasakan melafalkan kalimat bahasa Inggris secara berulang-ulang hingga fasih sebelum diterjunkan langsung untuk praktik berbicara.
"Banyak anak tidak berani ngomong bahasa Inggris karena belum biasa mengucapkan. Melalui drilling ini, otomatis mereka tahu dan keberanian mereka akan terlatih," pungkas Ahmad Said.
Pengelola menargetkan, dengan metode reguler yang intensif, para peserta didik dapat menguasai materi dalam waktu 3 bulan, dan bahkan siap mengajar dalam waktu 6 bulan.(as/BN24)











