BERKAH News24 - Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di Kota Madiun, Serikat Buruh Madiun Raya (SBMR) turun ke jalan menggelar aksi damai di Alun-alun Kota Madiun, Jumat (1/5/2026).
Ketua SBMR, Aris Budiono, dalam orasinya menegaskan bahwa esensi May Day adalah ruang perjuangan untuk menekan kebijakan yang tidak berpihak pada buruh.
Ia bahkan melontarkan kritik pedas terhadap perayaan May Day di Monas, Jakarta, yang dinilainya telah bergeser menjadi sekadar panggung hiburan.
"May Day itu bukan panggung hiburan. Ini ruang perjuangan. Kalau hanya seremoni, buruh kehilangan alat tekan," tegas Aris di hadapan massa aksi.
Salah satu poin krusial yang disoroti adalah ketimpangan upah antara wilayah Madiun dengan kota-kota besar di Jawa Timur. Aris memaparkan bahwa upah buruh di Madiun yang berada di kisaran Rp2,5 juta sangat jauh tertinggal dibandingkan Surabaya yang sudah melampaui Rp5 juta.
Padahal, menurutnya, harga kebutuhan pokok di kedua wilayah tersebut relatif sama. Selain upah, SBMR juga menyoroti praktik penahanan ijazah oleh perusahaan serta masih adanya iklim ketakutan bagi pekerja untuk menyuarakan hak-hak mereka.
Tidak hanya bicara soal pabrik, SBMR membawa isu lokal yang menyentuh ekonomi akar rumput. Buruh mendesak Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) untuk segera menerbitkan Tanda Daftar Usaha (TDU). SBMR secara tegas menolak rencana relokasi yang dianggap mengancam stabilitas ekonomi pedagang.
Pemerintah didesak segera mengimplementasikan Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 100.3.3.1/634/013/2025 terkait tarif angkutan sewa khusus guna menjamin keadilan tarif bagi pengemudi ojek online.
Aksi ini merangkum perjuangan mereka dalam "Sepuluh Tuntutan Rakyat", yang dianhtaranya meliputi penghapusan diskriminasi upah antar wilayah, pembangunan sistem ketenagakerjaan yang adil dan inklusif, perlindungan sosial menyeluruh bagi pekerja informal, dan kepastian hukum bagi pelaku usaha mikro (PKL).
Menutup rangkaian aksi, SBMR tidak membubarkan diri begitu saja. Massa melanjutkan kegiatan dengan berziarah ke makam almarhum Benu Widodo, salah satu tokoh pendiri KASBI, di TPU Sembungan, Kota Madiun. Ziarah ini dilakukan untuk merefleksikan kembali semangat perjuangan buruh yang konsisten dan tidak kenal kompromi.
Aksi berlangsung berjalan tertib, namun membawa pesan kuat bagi pemerintah bahwa persoalan kesejahteraan pekerja masih menjadi pekerjaan rumah yang besar.











