BERKAH News24 - Kabupaten Bojonegoro memiliki banyak bangunan heritage yang menyimpan sejarah masa lalu. Seperti di Kecamatan Padangan, banyak bangunan-bangunan kuno yang masih terpelihara. Kebanyakan berada di sekitar terminal Padangan. Salah satunya adalah bangunan tua yang kini berfungsi sebagai kantor Polsek Padangan.
Bangunan berarsitektur kolonian ini ternyata merupakan saksi bisu kejayaan jalur niaga tembakau di masa lampau. Letak bangunan bersejarah ini persis bertetangga dengan bangunan Padangan Heritage, Local History & Museum.
Dulu, bangunan Kantor Polsek ini merupakan pusat kendali yang vital bagi industri perkebunan. Pernah berfungsi sebagai kantor tembakau dan pernah menjadi pabrik kapur. Lokasi ini menjadi titik temu distribusi "emas hijau" (tembakau, red) yang menjadi komoditas unggulan Bojonegoro pada masanya.
Gaya arsitekturnya terkesan megah dengan dinding tebal, pilar-pilar kokoh dengan jendela besar, dan langit-langit tinggi khas bangunan Belanda masih dipertahankan hingga kini. Terazzo nuansa kecoklatan dan hijau zamrud menambah nuansa bersejarah dengan ambang pintu berarsitektural zaman kolonial. Aura kewibawaan bangunan ini seolah membawa kita kembali ke masa di mana Padangan menjadi salah satu pusat ekonomi penting di tepian Bengawan Solo.
Di balik kokohnya tembok-tembok tua tersebut, tersimpan cerita rakyat yang melegenda. Di area ini, terdapat tujuh buah sumur yang memiliki nilai filosofis dan spiritual bagi masyarakat sekitar. Konon, pada 1980-an, tujuh sumur ini tidak hanya digunakan untuk keperluan harian warga sekitar, tetapi airnya sering diambil untuk keperluan ruwatan, tradisi Jawa. Masyarakat kala itu meyakini adanya nilai keberkahan dan kesucian dari sumber air di lokasi bersejarah ini.
"Dulu tahun 80-an, air dari tujuh sumur di sini sering dicari orang untuk ruwatan. Memang sangat ikonik pada masanya," ujar Fahrudin, penjaga Padangan Heritage, Local History & Museum sekaligus cicit H. Rasyid, salah seorang pengusaha tembakau di zaman pra kemerdekaan. Sesuai silsilah keluarga, Fahrudin merupakan keturunan ke-4 dari H. Rasyid, sang pemilik bangunan Padangan Heritage yang menemani dan mejadi pemandu saat di kantor Polsek Padangan.
Seiring berjalannya waktu, fungsi sumur-sumur tersebut mulai bergeser. Meski fisiknya tetap ada sebagai bagian dari warisan sejarah, kebutuhan ruwatan kini lebih banyak dipasok dari sumber sendang di sekitar wilayah tersebut. Pergeseran ini menandai adaptasi zaman tanpa menghilangkan nilai historis yang melekat pada tanah Polsek Padangan.
Kini, Polsek Padangan tidak hanya menjalankan fungsinya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), tetapi juga berdiri sebagai monumen sejarah. Bangunan ini menjadi pengingat bagi generasi muda Bojonegoro bahwa di tanah ini, kejayaan agraris dan kekayaan budaya pernah bersatu dalam harmoni. [cs/nn]











