BERKAH News24 – Pemerintah Kabupaten Madiun melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menggelar Seminar Ketahanan Bangsa dan Toleransi untuk Pelajar se-Kabupaten Madiun pada Rabu (30/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di kawasan Wisata Religi Lima Tempat Ibadah, Desa Bulakrejo, Kecamatan Balerejo, ini diikuti oleh siswa-siswi tingkat SMP dan SMA/SMK/sederajat. Acara tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Madiun Hari Wuryanto, jajaran kepala perangkat daerah, camat, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), tokoh agama, serta para guru pendamping.
Sebagai wujud nyata kebinekaan, pembukaan seminar diawali dengan doa bersama secara bergantian dari lima pemeluk agama dan keyakinan, yakni Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, dan Buddha.
Bupati Madiun Hari Wuryanto menekankan pentingnya pembekalan wawasan kebangsaan di tengah pesatnya arus teknologi dan informasi. Para pelajar dituntut bijak menyaring informasi agar tidak mudah terpengaruh berita bohong (hoaks), konten intoleransi, maupun aksi perundungan (bullying).
“Harapan kami, dengan kegiatan ini anak-anak bisa memahami semuanya, bisa membedakan mana informasi yang benar dan mana yang salah,” kata Hari Wuryanto.
Bupati mengingatkan bahwa keanekaragaman suku, agama, budaya, dan bahasa merupakan kekayaan bangsa yang harus dijaga dengan memegang teguh semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Selain itu, ia menggarisbawahi pentingnya keseimbangan antara kecerdasan akademis dan pembentukan karakter.
“Tolong anak-anakku semua, jangan hanya pandai di akademi saja, etika dan norma juga diterapkan. Kalau kalian hanya pandai di akademi saja, itu nanti akan menjadikan suatu kesombongan. Kesombongan itu awal dari kehancuran. Etika dan norma, pelajaran adab itu nomor satu,” tegasnya.
Bupati Madiun Hari Wuryanto menjelaskan alasan mendasar pentingnya penanaman wawasan kebangsaan sejak dini. Menurutnya, pemikiran remaja yang masih fluktuatif perlu dibentengi dari pengaruh negatif seperti perundungan yang dapat memicu rasa dendam.
Ia juga menekankan bahwa para pelajar kelak akan melangkah ke jenjang pendidikan tinggi di berbagai daerah dengan kebudayaan yang beragam. Pembekalan mental dan sikap saling menghormati menjadi kunci agar mereka mampu beradaptasi tanpa memaksakan ego.
“Anak-anak pada saat menginjak kuliah, mereka berpindah ke tempat lain yang berbeda. Itu harus kita bekali dengan mental yang luar biasa. Jangan sampai nanti ke sana membawa egonya sehingga menjadi hal yang tidak baik. Di mana mereka berada, di situlah harus dihormati,” ujar Bupati.
Menanggapi pelaksanaan doa bersama dari lima agama dalam kegiatan tersebut, Hari Wuryanto menjelaskan bahwa pengenalan tatacara ibadah dan peribadatan agama lain penting untuk membangun pemahaman antaratlet dan mencegah kesalahpahaman.
“Misalkan anak-anak kita nanti kuliah di Bali. Kalau tidak paham, dikira 'Ini orang sedang apa?' Padahal itu sedang berdoa. Nah, kita pahamkan agar mereka tahu dan bisa menghormati. Kalau tidak tahu, nanti malah menilai yang tidak-tidak,” jelasnya.
Penanaman nilai kerukunan sejak dini dinilai menjadi modal utama dalam merawat keberagaman Indonesia.
“Harus dikenalkan sejak dini supaya mereka mudah
menghormati dan bertoleransi. Toleransi di Indonesia itu suatu keharusan karena
kita terdiri dari berbagai suku dan latar belakang,” pungkas Hari Wuryanto.(as/BN24)

.jpeg)
.jpeg)




