BERKAH News24 - Di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan ada tiga desa penghasil utama buah alpukat berkualitas dimana kawasan ini kini juga mengembangkan wisata petik alpukat yang pastinya menjadi destinasi wisata yang menarik.
Budi Rahman, salah satu petani alpukat di Desa Pucangsari, mengungkapkan bahwa ia memiliki sekitar 250 pohon alpukat yang saat ini sedang berbuah lebat. Dari jumlah tersebut, sebagian besar pohon yang ditanam berjenis impor, seperti miki, kuba, markus, hawai, aligator sampai alpukat mentega yang populer di kalangan pecinta alpukat nusantara.
"Kalau alpukat lokal cuma 25 persen sekitar 35 pohon. Sisanya ya alpukat yang varietas impor," ungkap Budi, seperti dalam siaran tertulisnya Pemkab Pasuruan, Selasa (3/2/2026).
Dalam satu pohon, Budi dapat memanen antara 2 hingga 5 kuintal alpukat. Menurutnya, kualitas buah sangat dipengaruhi oleh pemilihan bibit, lokasi penanaman, perawatan rutin, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit. "Kalau dengan perawatan yang konsisten dan teknik budidaya yang benar, tanaman alpukat dapat mulai berbuah sejak usia 3–4 tahun, tapi rata-rata 5 tahun sudah berbuah semua," tambahnya.
Budi yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Petani Alpukat Kecamatan Purwodadi menambahkan bahwa saat ini masa panen masih tergolong panen apit atau belum mencapai puncak panen raya. Hal tersebut membuat harga alpukat masih relatif tinggi. Harga Alpukat lokal antara 20 sampai 25 ribu per kilogram. Kalau yang impor sampai 35 ribu.
Permintaan terhadap alpukat dari Purwodadi pun cukup tinggi, datang dari berbagai daerah seperti Malang, Batu, Sidoarjo, hingga Kalimantan. Bahkan, pengiriman ke Kalimantan Timur pernah mencapai 10 ton.
Sementara itu, Camat Purwodadi, Sugiharto, mengatakan potensi besar alpukat di wilayahnya mendorong pengembangan wisata edukasi budidaya alpukat. Hal ini ditandai dengan pembangunan tugu bertuliskan “Kampung Alpukat” di ketiga desa penghasil alpukat tersebut.
Pemerintah Kabupaten Pasuruan juga memanfaatkan alpukat sebagai bagian dari program peningkatan gizi masyarakat. Salah satunya melalui gerakan makan alpukat bertajuk Gema Kating, yang bertujuan membantu mencegah stunting pada bayi dan balita.
"Ada gerakan namanya Gema Kating. Dengan cara ini masyarakat jadi tahu bahwa Pemerintah daerah akan terus memaksimalkan setiap potensi yang ada di sini, dengan memanfaatkan buah alpukat menjadi asupan gizi yang dapat dikonsumsi, salah satunya mencegah agar anak terhindar dari bahaya stunting," pungkasnya.













