BERKAH News24 - Peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-66 Tahun 2026 di Kabupaten Lumajang tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Sebanyak 46 ahli gizi dan dietisien turun langsung ke sekolah-sekolah untuk melaksanakan Edukasi Gizi Serentak Seluruh Indonesia, Rabu (21/1/2026), sebagai upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui intervensi gizi sejak usia dini.
Edukasi dilakukan serentak di 10 satuan pendidikan, mulai tingkat SD hingga SMA/SMK, yakni SMP Negeri 1 Kedungjajang, SMP IT Yahtadi, SMP Negeri 1 Yosowilangun, SMA Negeri 1 Tempeh, SMP Negeri 2 Pasirian, SMK Muhammadiyah Lumajang, SMA PGRI Lumajang, SMP Negeri 4 Lumajang, SD Negeri Tompokersan 02 Lumajang, serta SMP Negeri 2 Sukodono. Ratusan pelajar menjadi sasaran penguatan literasi gizi sebagai fondasi pembentukan generasi sehat dan produktif.
Ketua Panitia HGN ke-66 Kabupaten Lumajang, Aidah Aulia, menegaskan bahwa edukasi gizi bagi anak usia sekolah merupakan bagian penting dari strategi pencegahan masalah gizi dan peningkatan kualitas kesehatan jangka panjang.
“Edukasi ini bukan sekadar penyuluhan, tetapi upaya sistematis menanamkan perilaku makan sehat sejak dini. Anak-anak yang memahami gizi seimbang akan tumbuh lebih sehat, lebih cerdas, dan lebih siap menghadapi tantangan masa depan,” ujar Aidah.
Ia menjelaskan, materi edukasi mencakup konsep gizi seimbang, pentingnya sarapan sehat, konsumsi protein, sayur, dan buah, pembatasan gula, garam, dan lemak, serta pencegahan anemia remaja dan stunting. Materi tersebut disusun untuk menumbuhkan kesadaran bahwa kualitas gizi berkaitan erat dengan kemampuan belajar, daya tahan tubuh, dan perkembangan kecerdasan.
Aidah menilai kegiatan edukasi ini memiliki nilai strategis dalam mendukung kesiapan Indonesia Emas 2045, yang memerlukan sumber daya manusia unggul. Namun, tantangan masalah gizi seperti stunting, kekurangan zat besi, dan pola konsumsi tidak sehat masih perlu diatasi melalui langkah yang terukur.
“Intervensi paling efektif adalah edukasi sejak usia sekolah. Dari sinilah kita memutus rantai masalah gizi dan menyiapkan generasi yang sehat secara fisik, kuat secara mental, dan unggul secara intelektual,” tegasnya.
Edukasi Gizi Serentak juga menjadi bagian dari gerakan nasional dengan target pemecahan Rekor MURI. Meski demikian, penyelenggara menekankan bahwa nilai utama kegiatan terletak pada dampak perubahan perilaku, bukan pada pencapaian rekor semata.
Lebih lanjut, Aidah menekankan pentingnya sinergi antara tenaga kesehatan, satuan pendidikan, orang tua, dan pemerintah daerah. Menurutnya, sekolah menjadi ruang strategis pembentukan kebiasaan hidup sehat karena anak menghabiskan banyak waktu di lingkungan pendidikan.
“Kami berharap anak-anak tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi agen perubahan di keluarga dan lingkungannya. Pengetahuan gizi yang baik akan melahirkan keluarga yang lebih sehat dan masyarakat yang lebih kuat,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Kabupaten Lumajang menegaskan komitmennya membangun kualitas sumber daya manusia sejak awal. Edukasi gizi diposisikan sebagai investasi pembangunan jangka panjang untuk melahirkan generasi yang sehat, cerdas, berdaya saing, dan siap menyongsong visi Indonesia Emas 2045.












