BERKAH News24 - Kampung Tempe, Desa Parerejo, Kecamatan Purwodadi adalah satu desa yang sebagian besar penduduknya memproduksi tempe yang menjadi warisan turun temurun yang bukan hanya terbukti menghidupi, tapi disukai dengan perputaran uang dari kegiatan memproduksi tempe per harinya bisa mencapai Rp200 juta.
Mukhammad Irfan, salah seorang pengrajin tempe mengaku dalam sehari bisa memproduksi sampai 1 kwintal tempe. Tempe-tempe buatannya bukan hanya dijual dalam bentuk batangan saja, melainkan dalam kemasan mika, tempe mendoan, keripik tempe hingga brownies, cookies dan nugget tempe dengan omset per bulan bisa mencapai Rp50 juta.
"Kalau tempe batangan ya tetap seperti biasanya kita jual ke pasar karena banyak yang menunggunya. Tapi sekarang bisa dijadikan olahan seperti keripik tempe, nugget tempe, mendol krispi, brownies dan cookies. Tempe Parerejo ini beda dengan yang lain, karena rasanya gurih dan empuk dilidah," kata Irfan, Selasa (20/1/2026).
Sehari-harinya, Irfan bukan hanya memproduksi tempe saja. Tapi berinovasi dengan membuka kelas "Omah Edukasi Tempe", bagi siapa saja yang ingin tahu lebih jauh tentang tempe. "Siapapun yang mau ke sini silahkan, akan kami ajari proses membuat tempe sampai jadi beragam olahan berbahan dasar tempe," tambahnya.
Untuk satu papan tempe batangan buatan Irfan dengan ukuran 23 sentimeter X 35 sentimeter dan berat 2 kg hanya dijual Rp30 ribu saja. Sedangkan tempe yang dikemas mika dihargai Rp10 ribu, tempe mendoan kemasan isi 6 lapis seharga Rp6.000 hingga keripik tempe Rp70 ribu per 1 kilogram.
Sementara itu, Camat Purwodadi, Sugiarto menegaskan dalam satu hari, produksi tempe dari sekitar 185 pengrajin tempe di Desa Parerejo mencapai 20 ton. Maka tak salah bahwa perputaran uang dari kegiatan memproduksi tempe per harinya bisa mencapai Rp200 juta.
"Desa Parerejo ini potensinya luar biasa di bidang produksi tempe. Puluhan tahun bertahan untuk menjaga produksi dan kualitas tempe khas yang banyak disukai semua kalangan," tambahnya. (mar/yan/hjr)












