Ticker

10/recent/ticker-posts

Ad Code

Klik Disini

HUT PPNI Ke-52, Surabaya Perkuat Peran Perawat dan Siap Jadi Pusat Medical Tourism

BERKAH News24 - Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-52 Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kota Surabaya di RSPAL dr. Ramelan, Minggu (10/5/2026), menjadi momentum penguatan peran tenaga kesehatan sekaligus dorongan menjadikan Surabaya sebagai pusat medical tourism nasional.

Kegiatan yang diikuti sekitar 2.000 perawat dari berbagai instansi kesehatan di Surabaya itu diawali dengan senam aerobik dan jalan sehat, kemudian dilanjutkan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat, penunggu, dan pengunjung pasien. Layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan tekanan darah, gula darah, asam urat, hingga edukasi pola hidup sehat.

Kepala RSPAL dr. Ramelan, Laksamana Pertama TNI dr. Imam Hidayat Sp.S FINA, menegaskan kesiapan rumah sakit mendukung program Surabaya sebagai pusat wisata medis atau medical tourism. Menurutnya, RSPAL memiliki layanan kesehatan paripurna dengan standar internasional yang mampu bersaing dengan rumah sakit luar negeri.

“Seluruh layanan kesehatan yang dimiliki rumah sakit luar negeri seperti Singapura, Malaysia, hingga Australia pada dasarnya bisa kami lakukan di sini. Yang membedakan hanya branding dan persepsi masyarakat,” ujarnya.

Ia menyebut tingginya kepercayaan masyarakat terlihat dari jumlah kunjungan pasien rawat jalan yang mencapai 1.700 hingga 2.000 pasien per hari. Sementara tingkat keterisian tempat tidur (BOR) di rumah sakit tersebut berkisar 80 persen dari total lebih dari 880 tempat tidur yang tersedia.

Menurut Imam, tingginya angka kunjungan itu menunjukkan RSPAL menjadi salah satu rujukan utama masyarakat Surabaya dan Jawa Timur dalam memperoleh layanan kesehatan. “Kami siap mendukung program pemerintah kota menjadikan Surabaya sebagai center of medical tourism, baik dari sisi SDM maupun fasilitas,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya dr. Billy Daniel Messakh Sp.B FINACS FICS mengatakan Surabaya memiliki kemampuan besar untuk bersaing di sektor medical tourism karena didukung rumah sakit dengan layanan unggulan yang lengkap.

Ia menyebut saat ini terdapat delapan rumah sakit di Surabaya yang telah mengantongi akreditasi medical tourism dari Kementerian Kesehatan. Masing-masing rumah sakit memiliki spesialisasi layanan unggulan tersendiri. “Kita punya kemampuan, makanya kita harus berani. Tidak hanya soal kecantikan. Setiap rumah sakit punya keunggulan masing-masing,” ujarnya.

Billy mencontohkan RSPAL dr. Ramelan memiliki layanan bedah jantung terbuka atau open heart surgery yang sangat kuat. Menurutnya, tindakan operasi jantung terbuka membutuhkan teknologi dan peralatan dengan biaya tinggi, namun telah mampu dilakukan di Surabaya dengan kualitas yang baik.

Selain layanan jantung, Surabaya juga mulai memperkuat layanan kanker dan diagnostik modern. Ia menyebut saat ini dua rumah sakit besar di Surabaya telah memiliki fasilitas PET Scan yang sebelumnya membuat banyak pasien harus berobat ke luar negeri seperti Thailand atau Malaysia. “Sekarang Surabaya sudah bisa. Target kita minimal masyarakat Surabaya dan Jawa Timur tidak perlu lagi ke luar negeri untuk berobat. Bahkan Indonesia timur bisa datang ke Surabaya,” katanya.

Untuk mendukung target tersebut, Dinas Kesehatan bersama rumah sakit dan pelaku wisata mulai membangun promosi medical tourism melalui kerja sama dengan biro perjalanan wisata agar masyarakat semakin mengetahui layanan kesehatan unggulan di Surabaya.

Namun Billy mengakui masih ada tantangan berupa persepsi biaya layanan kesehatan di Surabaya yang dianggap lebih mahal dibanding luar negeri. “Masih ada image, berobat di Surabaya lebih mahal dari Singapura atau Kuala Lumpur Ini yang harus kita hilangkan,” ujarnya.

Karena itu, Dinas Kesehatan Surabaya berencana mengumpulkan para direktur rumah sakit untuk membahas penguatan ekosistem medical tourism, termasuk mendorong pelayanan yang berkualitas dan kompetitif. “Bukan mengatur harga, tetapi bagaimana kita sama-sama membangun Surabaya karena target pasar kita sama,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPD PPNI Kota Surabaya, Dr. Nuh Huda, M.Kep., Ns., Sp.Kep.MB, mengatakan tema HUT PPNI tahun ini, “Perawat Profesional Sebagai Modal Ekonomi Bangsa untuk Kesejahteraan Masyarakat”, menegaskan bahwa profesi perawat tidak hanya berperan dalam pelayanan kesehatan, tetapi juga mendukung produktivitas ekonomi masyarakat.

“Perawat profesional adalah aset ekonomi bangsa. Masyarakat yang sehat akan lebih produktif, sehingga investasi pada profesi perawat sama dengan investasi untuk kesejahteraan bangsa,” ujarnya.

Ia menambahkan, perawat merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan mulai dari tingkat puskesmas hingga rumah sakit rujukan. Karena itu, peningkatan kompetensi dan profesionalisme perawat harus terus diperkuat agar mampu mendukung program kesehatan pemerintah.

Pada puncak acara HUT PPNI ke-52 tersebut juga diberikan penghargaan kepada perawat teladan kategori rumah sakit, pendidikan, dan puskesmas sebagai bentuk apresiasi terhadap dedikasi tenaga keperawatan di Surabaya. (hjr)

close
Pasang Iklan Disini