Ticker

10/recent/ticker-posts

Ad Code

Klik Disini

SIKAP Bukti Nyata Learning by Doing Ketahanan Pangan

BERKAH News24 - Ketahanan pangan menjadi salah satu program prioritas Presiden Prabowo dalam swasembada pangan. Dalam mendukung program strategis ini, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mencetuskan program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) di jenjang SMA, SMK dan SLB di Jawa Timur.

Launching program ini bahkan ditandai dengan Penanaman, Penasaran Benih dan Panen Serentak yang diikuti 754 sekolah di Jawa Timur dengan melibatkan 110.481 murid, guru dan unsur pramuka. Aksi nyata ini pun mencatatkan dua Rekor MURI yang diberikan langsung oleh perwakilan MURI Jatim kepada Gubernur Khofifah Indar Parawansa, di SMKN 1 Plosoklaten Kediri, Minggu (25/1/2026).

Dua Rekor MURI itu adalah pelopor dan pelaksana SIKAP terbanyak pada Satuan Pendidikan SMA, SMK, dan SLB dengan melibatkan 754 sekolah terbanyak di Indonesia. Kedua, MURI untuk pemrakarasa ragam penanaman produktif dan tanam benih ikan serentak oleh 110.481 yang terdiri dari murid, guru dan unsur pramuka di Jawa Timur secara serentak.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan, program ini tidak hanya mendukung agenda nasional ketahanan pangan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran nyata bagi siswa.

Menurut orang nomor satu di Jawa Timur ini, keterbatasan lahan tidak menjadi penghalang, sebab sekolah justru didorong kreatif memanfaatkan setiap ruang yang ada.

“Lahan yang tadinya tidur, tidak produktif, sekarang dimanfaatkan. Jenis tanaman disesuaikan dengan kontur wilayah masing-masing,” katanya.

Ia juga menjelaskan saat ini, kebutuhan protein, termasuk ikan, cukup besar. Karenanya, ia meminta Dinas Pendidikan agar menginisiasi perikanan paling sederhana, seperti ikan lele yang bisa tumbuh dan berkembang hingga 5-6 kilogram.

Selain perikanan, peternakan ayam petelur dan ayam pedaging juga mulai dikembangkan di sekolah-sekolah.

Menurut Khofifah, meski sektor pertanian dan peternakan bukan core business sekolah seperti SMA, kegiatan ini berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran ketahanan pangan.

“Ini penguatan sekolah-sekolah untuk menyiapkan anak didik di berbagai sektor. Anak-anak tidak hanya belajar teori, tapi praktik langsung. Learning by doing,” imbuhnya.

Kunjungan Khofifah ke SMKN 1 Ploso menjadi contoh konkret keberhasilan program ini. Ia mengaku terkejut melihat kandang sapi dan kambing yang bersih, kandang ayam yang tertata, hingga sistem breeding yang dikelola siswa secara bergilir selama 24 jam.

“Ini betul-betul learning by doing. Anak-anak seperti sudah latihan kerja. Bahkan kemitraannya luar biasa, ada mentoring dan offtaker, sehingga hasil produksi langsung terserap dengan standar korporasi,” jelasnya.

Khofifah menilai, model pembelajaran ini bisa menjadi referensi bagi sekolah lain, bahkan perguruan tinggi. Meski demikian, ia mengakui masih ada kendala, terutama terkait status kepemilikan lahan sekolah yang mempengaruhi percepatan pembentukan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) di SMK.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jatim Aries Agung Paewai menyebut, program SIKAP hingga saat ini diikuti 754 sekolah jenjang SMA, SMK, dan SLB telah bergabung dalam program SIKAP, dari total sekitar 4.300 sekolah di Jawa Timur.

“Sekolah-sekolah kita di berbagai wilayah memang tidak semuanya memiliki lahan luas. Namun justru di situ terlihat semangat luar biasa untuk memanfaatkan lahan terbatas agar tidak menjadi lahan tidur,” ujarnya.

Menurutnya, jenis tanaman dan komoditas yang dikembangkan di sekolah disesuaikan dengan kondisi dan kontur wilayah masing-masing. Pendekatan ini tidak hanya mendorong kreativitas sekolah, tetapi juga memperkuat relevansi pembelajaran dengan lingkungan sekitar.

Kadindik lulusan IPDN ini mengungkapkan bahwa program SIKAP dirancang agar siswa tidak hanya menerima materi secara teoritis di dalam kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman praktik secara langsung.

“Kami berharap anak-anak bisa terkoneksi antara materi kurikulum dengan praktik di lapangan. Proses belajar menjadi lebih linier, anak-anak lebih bersemangat dan proaktif, karena mereka tidak hanya duduk di kelas,” jelasnya.

Hasil dari kegiatan ketahanan pangan di sekolah pun dimanfaatkan secara bijak. Di sekolah umum seperti SMA, hasil panen dapat dimanfaatkan oleh lingkungan sekolah, baik oleh guru maupun siswa, sehingga tercipta rasa memiliki dan kebersamaan.

Sementara itu, di SMK, kegiatan tersebut diarahkan lebih jauh sebagai bagian dari penguatan kompetensi siswa.

“Untuk SMK, tentu linier dengan kompetensi keahlian mereka. Bagaimana hasil produksi ini bisa menjadi pembelajaran kewirausahaan dan bahkan sumber pendapatan bagi siswa,” tambahnya.

Dinas Pendidikan Jawa Timur, lanjutnya, terus memberikan dukungan dengan membuka ruang inovasi bagi sekolah-sekolah agar program ini berkembang sesuai karakter dan potensi masing-masing satuan pendidikan.

Melalui SIKAP, sekolah diharapkan tidak hanya menjadi pusat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kemandirian, dan kepedulian siswa terhadap ketahanan pangan dan lingkungan sejak dini.

close
Pasang Iklan Disini